Negara Brunei Diblacklist Oleh AS karena Kekayaannya, Sultannya Merupakan Raja Terkaya

by -492 Views

Jakarta, CNBC Indonesia – Perbincangan mengenai Brunei Darussalam mencuat setelah negara tersebut tiba-tiba dimasukkan oleh Amerika Serikat ke dalam daftar hitam terkait perdagangan manusia, Selasa. Mengacu pada Laporan Tahunan Departemen Luar Negeri AS yang dilaporkan oleh AFP, diketahui bahwa negara Islam tersebut termasuk dalam kategori tingkat 3 yang berisi negara-negara yang tidak berbuat cukup dalam melawan perdagangan manusia.

Hal ini dapat berimbas pada dikenakannya sanksi atau pengurangan bantuan dari AS. Padahal, temuan AS tentang sikap abai terhadap perdagangan manusia berbanding terbalik dengan kekayaan melimpah Brunei Darussalam yang dikenal sebagai wilayah kaya minyak dunia.

Awal Mula Kekayaan

Eksplorasi minyak di wilayah Brunei Darussalam dimulai pada tahun 1928 oleh perusahaan asal Inggris, Shell. Eksplorasi tersebut kemudian membuat Kesultanan Brunei Darussalam bertransformasi dari negara dagang menjadi negara minyak yang kaya dan makmur. Salah satu tokoh kunci yang muncul selama proses transformasi adalah Hassanal Bolkiah yang kemudian menjadi sultan menggantikan ayahnya, Sultan Omar, pada tahun 1967. Di bawah kepemimpinan Bolkiah, Brunei menggunakan produksi puluhan juta barel minyak per tahun sebagai fondasi transformasi menjadi salah satu negara kaya di Asia Tenggara.

Salah satu pencapaian tertinggi produksi minyak Brunei terjadi pada tahun 1980. Pada tahun tersebut, menurut Brunei Darussalam Yearbook, produksi minyak Brunei berhasil mencapai 82 juta barel minyak. Dengan besarnya produksi migas tersebut, tidak hanya keluarga kesultanan yang menjadi makmur, tetapi Istana juga dapat berdiri megah dan mereka dapat memperkaya diri.

Kesejahteraan juga dirasakan oleh seluruh rakyat. Melalui laporan Economist, diketahui bahwa berkat keuntungan dari migas, Brunei dapat membebaskan warganya dari pajak penghasilan, memberikan pendidikan gratis, subsidi bahan pangan, dan lain sebagainya. Meskipun begitu, seiring berjalannya waktu, sektor migas tidak lagi menjadi andalan Brunei untuk memperkaya diri. Hal ini disebabkan oleh ketidakstabilan harga minyak dan penurunan produksi migas tahunan Brunei. Oleh karena itu, Sultan Bolkiah melakukan diversifikasi bisnis dengan melakukan investasi di luar negeri melalui Brunei Investment Agency (BIA) sejak tahun 1990-an.

Diketahui bahwa BIA melakukan investasi di Amerika Serikat, Australia, dan banyak negara Eropa. Salah satu aset BIA termasuk kepemilikan hotel yang tersebar di Los Angeles, London, dan Paris.

Persekutuan Bisnis Bersama Orang Indonesia

Sultan Hassanal Bolkiah juga pernah berbisnis bersama orang Indonesia, yakni Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut, putri dari Presiden Soeharto. Tutut tercatat pernah ikut serta dalam proyek pembangunan di Brunei Darussalam pada awal tahun 1990-an. Melalui Tutut pula, Sultan Brunei melalui BIA memiliki hotel bintang lima di Nusa Dua Beach Hotel, Bali. Kesultanan Brunei juga turut serta dalam proyek pembangunan tol di Jakarta.

Dengan semua pencapaian tersebut, pendapatan pribadi anggota Kesultanan Brunei Darussalam meningkat secara drastis. Anggota keluarga seperti Jefri Bolkiah, adik dari Sultan, memiliki lebih dari 2.300 mobil serta 8 pesawat pribadi dan 1 helikopter. Anak Jefri, Faiq Bolkiah, bahkan dinobatkan sebagai pesepakbola terkaya yang melampaui Christiano Ronaldo. Sultan Hassanal Bolkiah tercatat memiliki harta sebesar US$28 miliar atau sekitar Rp 435 triliun.

Semua kekayaan tersebut menjadikannya sebagai salah satu raja terkaya di dunia dan berada di urutan kedua sebagai raja terkaya di Asia Tenggara.