Sejarah Beras ‘Tekad’ di RI: Jejak Warisan Beras Lokal

by -294 Views

Sejarah perberasan di Indonesia sangat dinamis, terutama saat membahas sejarah beras ‘Tekad’. Pada tahun 1968, dunia mengalami kekeringan hebat yang mengakibatkan penurunan stok pangan secara global, termasuk beras. Situasi ini sangat mempengaruhi Indonesia yang pada saat itu masih sangat bergantung pada impor beras.

Menurut penelitian I Ketut Nehen dalam “Technology, Farmers’ Organization and Rice Self-sufficiency in Indonesia” (1989), volume impor beras Indonesia terus meningkat sejak tahun 1965. Pada tahun 1965, Indonesia mengimpor 140 ribu ton beras, kemudian meningkat menjadi 240 ribu ton pada tahun berikutnya, dan mencapai 350 ribu ton pada tahun 1967.

Ketergantungan Indonesia terhadap beras tidak dapat disangkal, namun dengan stok dalam negeri yang terbatas dan peluang impor yang semakin kecil, pemerintah pada saat itu memperkenalkan beras “Tekad”. Beras “Tekad” merupakan hasil olahan dari ubi jalar, kacang, dan jagung, bukan beras sungguhan.

Ide “Tekad” sendiri bukanlah inisiatif pemerintah, namun merupakan inovasi dari Mantrust, Inc., sebuah perusahaan yang mendapatkan dana dari kredit pemerintah untuk membangun pabrik di Jawa yang mampu memproduksi beras Tekad. Meskipun ada penolakan terhadap produksi beras Tekad, pemerintah Soeharto tetap melaksanakan ide ini.

Meskipun awalnya dirancang sebagai solusi untuk menghadapi krisis pangan, realitas di lapangan tidak sesuai. Harga beras Tekad yang mahal tanpa subsidi membuat masyarakat sulit mengaksesnya. Akhirnya, penggunaan beras Tekad sebagai pengganti nasi tidak pernah terwujud, dan produk tersebut perlahan menghilang dari pasaran.

Seiring berjalannya waktu, beras Tekad tidak lagi dianggap sebagai alternatif utama oleh masyarakat, dan lebih sering digunakan untuk membuat kue. Dengan begitu, beras Tekad menjadi contoh yang menarik tentang sejarah perberasan di Indonesia, yang masih memiliki pelajaran berharga yang bisa diambil hingga saat ini.

Source link