Jepang telah lama dikenal sebagai salah satu pemimpin dalam teknologi, inovasi, dan gaya hidup yang mempengaruhi banyak negara. Namun, di balik kemajuan yang spektakuler itu, terdapat kisah menarik tentang kebangkitan Jepang dari masa ‘kuburan’ pada abad ke-19 yang dipimpin oleh seorang remaja berusia 15 tahun yang tidak disangka-sangka.
Pada masa kebijakan isolasi (sakoku) yang diterapkan oleh Jepang sejak 1633 di bawah pemerintahan militer Keshogunan Tokugawa, negara ini sangat tertutup dari pengaruh dunia luar. Namun, pada tahun 1853, kedatangan kapal Amerika Serikat (AS) mengguncang Jepang dan membuka mata para elite negara tersebut tentang betapa besar kemajuan dunia luar.
Perubahan besar-besaran pun dimulai, dipimpin oleh seorang remaja berusia 15 tahun bernama Mitsuhito. Pada tahun 1867, dia menjadi Kaisar Jepang ke-122 dengan gelar Kaisar Meiji. Melalui momentum ini, terjadi Restorasi Meiji yang membawa transformasi besar-besaran menuju modernisasi.
Untuk mendukung transformasi ini, Kaisar Meiji mengirim anak-anak muda Jepang untuk belajar ke luar negeri, khususnya ke negara-negara Barat. Tujuannya adalah agar mereka dapat membawa pulang ilmu pengetahuan dan wawasan baru untuk modernisasi Jepang.
Selain itu, Kaisar Meiji juga membangun kedekatan dengan rakyat dengan melakukan blusukan ke seluruh negeri secara intensif. Langkah lain yang diambil adalah mendatangkan lebih dari 3.000 tenaga ahli asing untuk mengajarkan ilmu pengetahuan modern, bahasa asing, dan teknologi terbaru kepada masyarakat Jepang.
Dalam sektor ekonomi, sistem perbankan modern dibentuk untuk mendukung perkembangan bisnis baru. Jepang mulai mengimpor bahan mentah, mengolahnya, dan kemudian mengekspornya. Berkat transformasi ini, Jepang menjadi negara Asia pertama yang berhasil mengadopsi industrialisasi modern secara menyeluruh.
Kaisar Meiji, yang meninggal pada tahun 1912, dianggap sebagai sosok penting dalam membawa perubahan besar bagi Jepang, serta dikenal oleh dunia sebagai pembawa perubahan yang mengagumkan.
