Tragedi Peneliti RI Tewas di Ancol: Fakta Terbaru

by -230 Views

Indonesia merupakan negara yang tidak pernah kehabisan orang-orang berbakat. Dari masa lalu hingga sekarang, selalu ada anak bangsa yang lahir dengan kecerdasan dan keberanian di atas rata-rata. Salah satu contohnya adalah Profesor Achmad Mochtar, seorang ilmuwan medis yang namanya menggemparkan dunia sains internasional. Sayangnya, hidup Mochtar berakhir tragis di tangan penjajah Jepang.

Kisah dimulai pada Sabtu, 7 Oktober 1944, di Jakarta, ketika Mochtar dijemput polisi militer Jepang dari rumahnya. Dia dipanggil setelah ratusan romusha meninggal akibat suntikan vaksin. Tanpa bukti langsung, Jepang menuduh vaksin dari Eijkman Instituut yang dipimpinnya sebagai penyebab kematian tersebut. Mochtar kemudian ditahan di penjara Kempetai, di mana dia disiksa bersama ilmuwan Indonesia lain yang ditahan Jepang.

Beberapa tahun setelah tragedi itu, terungkap bahwa Achmad Mochtar dan Eijkman Instituut tidak terlibat dalam kematian romusha. Penelusuran oleh Sangkot Marzuki dan Kevin Baird menunjukkan bahwa Jepang hanya menggunakan Mochtar sebagai kambing hitam. Mochtar sendiri pernah membantah penelitian ilmuwan Jepang Noguchi Hideyo, yang reputasinya turun setelah Mochtar membuktikan kesalahannya terkait bakteri penyebab demam kuning.

Selanjutnya, terdapat benang merah antara bantahan Mochtar terhadap penelitian Noguchi dan kematiannya di tangan Jepang. Meskipun Noguchi dihormati di Jepang, reputasi Mochtar tidak sepenuhnya pulih di tanah air. Meskipun telah meninggal, namanya tetap dikenang sebagai ilmuwan yang berjuang dengan ilmu dan pengorbanan. Rubrik CNBC Insight menyajikan ulasan sejarah seperti ini untuk menjelaskan kondisi masa kini melalui relevansi di masa lalu.

Source link