Presiden RI Sakit Hati: Menterinya Dihina, Pendemo Bawa Tuntutan Rakyat

by -473 Views

Pada tahun 1966, demonstrasi besar-besaran dilakukan oleh ribuan mahasiswa di Jakarta untuk menuntut perubahan di Indonesia. Harga bahan pangan yang tak terkontrol dan kenaikan harga bensin membuat kondisi negara semakin memprihatinkan. Namun, pemerintah terlambat merespons masalah ini, menyebabkan mahasiswa menganggap Presiden Soekarno lamban dalam menangani situasi tersebut.
Mahasiswa meluapkan amarah dengan umpatan kasar dan tuntutan yang diwujudkan dalam poster yang berisi kalimat-kalimat menghina terhadap para menteri. Hal ini membuat Soekarno merasa sedih dan sakit hati, karena dianggap kurang sopan oleh mahasiswa. Dalam sidang kabinet, Soekarno menyampaikan perasaannya dan menegaskan bahwa umpatan tersebut membuatnya menyayangkan sikap mahasiswa dan meminta agar mereka lebih sabar. Meskipun demikian, sikap denial Soekarno terhadap berbagai peristiwa buruk di Tanah Air membuat amarah mahasiswa semakin memuncak.
Pada Februari 1966, setelah melakukan reshuffle kabinet yang tidak memenuhi tuntutan mahasiswa, gelombang demonstrasi kembali terjadi. Hal ini membuat keadaan semakin tidak terkendali, sehingga Soekarno akhirnya mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang memberi mandat kepada Jenderal Soeharto untuk mengelola ketertiban dan keamanan negara. Supersemar menjadi titik balik dalam sejarah Indonesia, di mana kekuasaan Soekarno mulai tergerus dan posisi Soeharto semakin menguat. Keseluruhan peristiwa ini memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia, dan nilai-nilai kehidupan dari masa lalu masih dapat dijadikan pembelajaran hingga saat ini.

Source link