Soekarno Sakit Hati: Menteri Dihina, Pendemo Tuntut Keadilan

by -279 Views

Kebebasan bersuara dalam berunjuk rasa kadang dapat memicu perasaan orang lain, termasuk Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Pada tahun 1966, terjadi aksi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh ribuan mahasiswa di Jakarta. Mereka menuntut perubahan menyeluruh atas kondisi negara yang semakin memprihatinkan, terutama dengan kenaikan harga bahan pangan dan bensin yang mencapai ratusan persen. Situasi politik yang tidak stabil pasca Gerakan 30 September 1965 turut memperparah keadaan.

Presiden Soekarno dianggap lamban dalam menanggapi permasalahan yang ada, sehingga mahasiswa pun turun ke jalan dengan tiga tuntutan utama, dikenal sebagai Tritura. Dalam aksi demonstrasi, mahasiswa melemparkan kata-kata kasar dan juga menuliskannya dalam poster yang dibentangkan di jalanan. Perasaan sakit hati dan kesedihan Presiden Soekarno akibat umpatan kasar tersebut diungkapkan dalam sidang kabinet di Istana Bogor pada Januari 1966.

Namun, respons Soekarno terhadap demonstrasi tersebut tidak sepenuhnya memuaskan para mahasiswa. Keputusan reshuffle kabinet yang dilakukannya pada Februari 1966 tidak memenuhi tuntutan mahasiswa karena masih melibatkan unsur-unsur yang berhubungan dengan PKI. Gelombang demonstrasi pun kembali terjadi, semakin tidak terkendali hingga akhirnya Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang memberi mandat pada Jenderal Soeharto untuk mengelola ketertiban dan keamanan negara.

Supersemar menjadi titik balik dalam sejarah, di mana kekuasaan Soekarno mulai tergerus dan posisi Soeharto semakin menguat. Kejadian ini menjadi pengingat penting mengenai kebebasan berekspresi, sikap hormat kepada sesama, dan respons pemerintah terhadap tuntutan rakyat. Sejarah ini memberikan pelajaran berharga bagi kita dalam memahami kondisi masa lalu yang dapat memberikan inspirasi untuk masa kini dan masa depan.

Source link