Pada masa lampau, warga Batavia bukan hanya harus menghadapi tekanan kolonial, tetapi juga ketakutan akan teror harimau. Menurut catatan sejarah, harimau Jawa sering kali menyerang manusia di Batavia, hingga pemerintah kolonial harus mengirim ratusan pemburu untuk mengatasi ancaman ini. Sejarawan Peter Boomgaard dalam bukunya yang berjudul Frontiers of Fear (2001) mencatat bahwa antara tahun 1633-1687 terdapat minimal 30 serangan harimau terhadap penduduk Batavia. Serangan paling sering terjadi di kebun tebu, tempat yang dianggap sebagai habitat utama harimau karena terdapat banyak babi hutan sebagai mangsanya.
Ancaman dari harimau tidak hanya menimpa penduduk lokal, karena pada tahun 1668, seorang Eropa pertama kali menjadi korban yang tewas diterkam harimau. Situasi ini membuat VOC turun tangan dengan mengerahkan sekitar 800 orang untuk memburu harimau di Batavia. VOC bahkan memberikan insentif berupa uang tunai sebesar 10 ringgit untuk setiap ekor harimau yang ditangkap, yang pada saat itu jumlah tersebut cukup untuk membeli beras setahun bagi satu keluarga.
Namun, akibat dari perburuan masif ini, populasi harimau Jawa dramatis menurun. Seiring dengan hilangnya habitat akibat pembukaan lahan perkebunan, konflik antara manusia dan harimau semakin tidak terhindarkan. Hasil dari riset seorang antropolog bernama R. Wessing dalam The Last Tiger in East Java (1995) menunjukkan bahwa rata-rata 2.500 orang tewas setiap tahun akibat serangan harimau di Jawa pada masa kolonial.
Sayangnya, penurunan populasi harimau Jawa berujung pada kepunahan mereka. Mulai dari sekitar 200-300 ekor pada tahun 1940, harimau Jawa akhirnya dinyatakan punah oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) pada tahun 2008. Meskipun ada laporan penampakan harimau Jawa setelah itu, namun tanpa bukti yang kuat. Penampakan terakhir yang dilaporkan adalah pada tahun 2019 di desa Cipendeuy di Sukabumi Selatan, di mana beberapa warga melihat jejak kaki, cakaran, dan bulu harimau Jawa yang diklaim mereka temukan.





