Presiden Prabowo Subianto menyoroti luka sejarah kolonialisme yang dialami bangsa Indonesia dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York, AS. Dia menggambarkan bagaimana rakyat Indonesia selama berabad-abad diperlakukan secara tidak manusiawi. Pernyataan Prabowo ini mencerminkan kenyataan sejarah saat era kolonial Belanda, di mana terdapat sistem stratifikasi sosial yang menciptakan stigma dan diskriminasi terhadap pribumi. Prabowo sendiri menyaksikan sendiri jejak diskriminasi ini, mengenang pengalaman pribadi saat berkunjung ke kolam renang Manggarai pada tahun 1978.
Diskriminasi sosial yang terjadi di masa kolonial juga berdampak pada sektor ekonomi. Rakyat Indonesia diperlakukan sebagai tenaga kerja murah untuk kepentingan kolonial, sementara keuntungan dari kerja keras rakyat justru diraup oleh pihak kolonial. Setelah Indonesia merdeka, stratifikasi sosial ini mulai runtuh, sehingga sebutan merendahkan yang menyamakan pribumi dengan anjing hanya tinggal sebagai catatan kelam sejarah. Seperti yang diungkapkan oleh sejarawan Jan Breman, banyak petani pribumi kehilangan tanah garapan mereka akibat sistem tanam paksa, sehingga lahir kemiskinan yang menjerat generasi demi generasi. Namun, kini setelah merdeka, Indonesia mengalami perubahan sosial signifikan yang menghapuskan diskriminasi tersebut.
