Riset MSC: Perempuan di Ekonomi Digital

by -330 Views

Riset MSC 2025 mengungkap bahwa mayoritas perempuan yang menjadi pelaku social commerce di Indonesia masih mengandalkan dana pribadi dan minim pelatihan. Hal ini menunjukkan perlunya ekosistem digital inklusif dan akses pembiayaan formal agar usaha mereka dapat berkembang secara berkelanjutan.

Sebagai contoh, Jumiyah, seorang pengusaha kuliner di Balikpapan, mengaku hanya mengetahui fitur katalog di WhatsApp Business setelah diwawancarai. Ia berharap ada pelatihan agar bisa menggunakan fitur tersebut dengan lebih efektif. Cerita Jumiyah mencerminkan realitas ribuan pengusaha mikro di Indonesia, terutama perempuan, yang bergantung pada social commerce untuk mencari nafkah. Namun, banyak dari mereka tidak memiliki perlindungan, akses pelatihan, atau keuangan formal.

Social commerce berbeda dengan e-commerce formal karena ia lebih sederhana, berbasis jaringan pribadi, dan banyak dijalankan oleh pengusaha mikro informal. Banyak dari pelaku social commerce tergolong sebagai pengusaha mikro informal, yaitu usaha perorangan kecil yang belum terdaftar secara formal, namun dikelola dengan sederhana. Terdapat hambatan yang menyebabkan para pelaku social commerce sulit mengakses pembiayaan formal, salah satunya adalah kurangnya integrasi fitur end-to-end dalam transaksi mereka.

Riset terbaru MSC mengenai “The Landscape and Financial Access of Social Commerce Sellers in Indonesia” menyoroti bahwa sebagian besar pelaku social commerce masih mengandalkan dana pribadi untuk modal usaha. Hanya sedikit dari mereka yang mendapatkan kredit dari lembaga keuangan formal. Perempuan cenderung lebih hati-hati dalam mengambil risiko finansial, sehingga banyak yang memilih skema informal seperti arisan. Selain itu, kurangnya pelatihan bisnis juga menjadi sebuah hambatan dalam pengembangan usaha para pelaku social commerce.

Mengingat hal ini, penting untuk membangun ekosistem digital yang inklusif dan aman agar para pengusaha informal, khususnya perempuan, dapat berkembang dan terlindungi dengan baik. Pendekatan yang fleksibel, pelatihan yang murah, dan fitur yang ramah pengguna perlu diperhatikan agar mereka dapat memanfaatkan potensi ekonomi digital secara lebih efektif. Kesempatan untuk membangun ekosistem yang inklusif masih terbuka lebar, dan dengan dukungan kebijakan yang tepat, social commerce dapat menjadi motor penggerak pemberdayaan ekonomi perempuan dan kelompok rentan.

Source link