Setiap tanggal 18 November, Indonesia merayakan Hari Sawit Nasional untuk mengenang sejarah penanaman kelapa sawit pertama untuk tujuan komersial di Indonesia pada tanggal yang sama pada tahun 1911. Saat ini, kelapa sawit menjadi komoditas bernilai tinggi yang berpotensi memberikan pendapatan besar bagi negara. Menurut Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia, Sahat Sinaga, pendapatan Indonesia dari sektor sawit diperkirakan dapat mencapai jumlah yang signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
Meskipun kelapa sawit merupakan tanaman yang bernilai tinggi hari ini, perjalanan sejarahnya tidaklah mudah. Tanaman ini awalnya tidak mendapatkan perhatian yang cukup karena dianggap sebagai tanaman baru. Awalnya, kelapa sawit berasal dari Afrika Barat dan mulai ditanam di Indonesia pada tahun 1848 oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Meski sudah berbuah dalam waktu lima tahun, masyarakat kurang memahami potensi ekonomi dari tanaman ini sehingga tanaman ini sering diabaikan.
Pemerintah terus melakukan percobaan dan eksperimen tanaman sawit, dan pada tahun 1856 berhasil menanam sawit di Jawa Timur dengan hasil yang positif. Penanaman sawit kemudian diperluas ke Sumatra dan pada tanggal 18 November 1911, sawit mulai ditanam secara komersial. Sejak saat itu, sawit mulai menjadi komoditas bernilai tinggi dan mulai diekspor ke luar negeri.
Tercatat pada tahun 1924, luas lahan sawit di Sumatra sudah mencapai 20.000 hektar, meningkat dari sebelumnya ratusan hektar. Sawit juga menjadi tanaman utama di Indonesia dan industri sawit berkembang pesat. Meskipun pernah mengalami kemunduran saat penjajahan Jepang, industri sawit kembali berkembang pada era kemerdekaan dan mencapai puncaknya pada dekade 1970-an. Indonesia pun menjadi salah satu negara eksportir utama minyak sawit mentah dunia karena permintaan yang tinggi dari Eropa untuk industri mentega dan sabun.





