Sejarah hubungan diplomatik antara China dan Amerika Serikat telah terjalin selama lebih dari empat dekade. Namun, insiden tragis yang terjadi pada 7 Mei 1999 di Kedutaan Besar China di Beograd, Serbia, tetap menjadi titik terendah yang sulit dilupakan oleh Beijing. Pada saat itu, pesawat jet AS yang salah sasaran menghantam kedutaan tersebut, menyebabkan tiga warga negara China tewas dan puluhan lainnya terluka.
Insiden ini terjadi ketika pasukan Serbia dan warga Albania-Kosovo sedang bertempur dan Angkatan Udara AS melancarkan serangan udara terhadap Serbia. Meskipun target seharusnya markas badan persenjataan eks-Yugoslavia, bom malah menghantam kedutaan China. Hal ini memicu kemarahan di China, dengan ribuan warga yang turun ke jalan mengecam tindakan AS dan NATO.
Setelah tekanan internasional, AS akhirnya mengakui kesalahan mereka dan Presiden Bill Clinton menyampaikan permintaan maaf resmi. Namun, kejadian ini tetap menjadi pengganjal dalam hubungan diplomatik antara AS dan China. Meskipun AS membayar kompensasi kepada korban dan pemerintah China, banyak warga China merasa bahwa hukuman terhadap pelaku tidak sebanding dengan dampak insiden tersebut.
Dua dekade kemudian, Presiden Xi Jinping kembali menyinggung tragedi ini, menunjukkan bahwa warga China tidak akan melupakan kejadian tersebut meskipun mereka menghargai perdamaian. Sebagai bagian dari sejarah yang melatarbelakangi kondisi masa kini, insiden ini menjadi peringatan bagi kedua negara untuk memperbaiki hubungan mereka demi kebaikan bersama.





