Tragedi Air Bah Tumpah: Misteri Mayat di Kota Tengah Malam

by -56 Views

Banjir dan tanah longsor melanda Sibolga pada Senin (24/11) dan Selasa (25/11), mengakibatkan rusaknya infrastruktur dan memutus akses jalan. Namun, sejarah menunjukkan bahwa bencana semacam ini bukan hal baru bagi Sibolga. Lebih dari lima puluh tahun yang lalu, pada Sabtu, 22 Juli 1956, kota pesisir ini dihantam oleh banjir dahsyat. Malam itu, langit tiba-tiba berubah tanpa peringatan dan hujan deras mengguyur kota.

Dalam waktu singkat, air bah menyerbu dua per tiga wilayah kota yang berdekatan dengan Sungai Aek Habil, menyebabkan kerugian yang besar dan menelan korban jiwa. Ribuan rumah hancur, jembatan runtuh, dan akses ke kota lain terputus. Korban tewas akibat bencana ini mencapai 38 orang, termasuk seorang pasangan pengantin baru yang ditemukan meninggal dalam keadaan tertimbun lumpur. Kerugian material diperkirakan mencapai lebih dari Rp50 juta, jumlah yang besar pada masa itu.

Pemerintah menyatakan Sibolga sebagai zona darurat militer untuk mempercepat evakuasi dan rehabilitasi. Bantuan dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk sumbangan dari tokoh-tokoh nasional, mengalir untuk membantu pemulihan kota. Hampir enam puluh tahun kemudian, bencana serupa kembali melanda Sibolga, menjadi pengingat akan potensi bahaya yang masih ada di wilayah tersebut. Sejarah ini penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana dan persiapan yang tepat dalam menghadapi ancaman alam.

Source link