Masa Depan AI Ditentukan oleh Negara yang Mampu Mengamankannya

by -177 Views

Pada kesempatan International Postgraduate Student Conference (IPGSC) yang diadakan oleh Program Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia pada 23–24 Oktober 2025, perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital, Raden Wijaya Kusumawardhana, membawakan pidato kunci yang membahas fenomena strategis seputar kecerdasan buatan (AI), pergeseran geopolitik, dan serangan siber. Ia menyoroti perubahan fundamental dalam tatanan global, di mana data, algoritma, dan sistem digital menjadi faktor penentu dalam persaingan kekuatan negara-negara di dunia.

Menurut Raden Wijaya, AI telah mentransformasi bukan hanya model ekonomi dan sosial, melainkan juga memengaruhi strategi geopolitik dan keseimbangan kekuatan dunia. Kemajuan teknologi DeepSeek dari Tiongkok menjadi paradigma baru, sebab inovasi dengan biaya relatif rendah mampu mengguncang dominasi AI Barat serta mengakibatkan fluktuasi valuasi pasar teknologi global secara signifikan. Fenomena ini memperlihatkan betapa dinamis dan kompetitifnya sektor teknologi digital saat ini.

Tidak hanya itu, ia juga menyoroti penggunaan AI dalam ranah pertahanan, seperti tercermin pada konflik yang melibatkan Iran–Israel maupun Rusia–Ukraina. AI tidak hanya menunjang efisiensi dan ketepatan operasi militer, tetapi juga menghadirkan tantangan baru terkait pengamanan infrastruktur dan kendali teknologi. Sifat dual-use dari AI dan keterkaitannya dengan rantai pasok microchip kini menjadi kekuatan strategis, sehingga negara-negara pemilik teknologi AI unggul dapat secara efektif mempengaruhi kebijakan dan regulasi internasional di bidang digital.

Dalam aspek ancaman siber, Raden Wijaya menyampaikan gambaran akan semakin rumit dan berlipatnya bentuk ancaman di dunia maya. Ia menegaskan bahwa teknologi digital kini tidak mengenal batas negara dan bersifat sangat adaptif—alat sipil bisa dengan mudah diubah menjadi instrumen ofensif oleh negara ataupun pelaku non-negara. Contoh konkret dari dual-use terlihat dalam infrastruktur digital seperti cloud, perangkat lunak, hingga AI yang dapat dimanfaatkan baik untuk mendorong kemajuan ekonomi maupun untuk menjalankan operasi peretasan atau sabotase.

Ia menambahkan, sifat asimetris ancaman siber memperlihatkan ketidakseimbangan antara negara atau kelompok dengan sumber daya besar maupun kecil. Serangan presisi terhadap infrastruktur penting dapat dijalankan oleh negara kuat, sementara kelompok kecil pun mampu membuat kerusakan yang luas memanfaatkan malware canggih atau eksploitasi zero-day. Kondisi ini membuka peluang bagi aktor beragam untuk bermain di ranah siber secara bebas dan sering kali sulit untuk dilacak.

Selain itu, penyerangan di dunia maya kerap dilakukan melalui jalur tidak langsung—seperti melibatkan kelompok kriminal, konsultan TI, ataupun perorangan yang beroperasi sebagai proxy. Hal ini menimbulkan ambiguitas terhadap pelaku utama serangan, terlebih AI memungkinkan automasi serangan, pembuatan konten manipulatif secara massal, serta identifikasi celah keamanan dengan tingkat akurasi tinggi. Kolaborasi antara kemampuan teknologi dan kerahasian pelaku menjadikan penanggulangan ancaman siber semakin kompleks.

Ancaman cyber semakin terhubung dengan upaya manipulasi informasi. AI generatif, misalnya, telah digunakan dalam pembuatan propaganda dan disinformasi untuk mengacaukan persepsi publik atau melemahkan legitimasi instansi negara. Fenomena ini memperlihatkan bahwa pertarungan dunia maya tidak hanya terjadi di ranah teknis, tetapi juga sangat kental di level sosial dan politik.

Dari keseluruhan penjelasan tersebut, Raden Wijaya menegaskan bahwa Indonesia tidak dapat memandang isu siber hanya sebagai tantangan teknologi, melainkan berkaitan langsung pada kedaulatan digital, keamanan nasional, dan stabilitas politik dalam negeri. Ia mengajak agar Indonesia memperkuat infrastruktur siber nasional, membangun ekosistem talenta digital, serta menetapkan kebijakan deterrence terhadap potensi ancaman digital. Langkah ini penting untuk memastikan kontrol dan penguasaan terhadap teknologi yang semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai penutup, Raden Wijaya mengingatkan bahwa keberhasilan Indonesia menghadapi tantangan era digital tidak sekadar ditentukan oleh kepemilikan teknologi mutakhir, namun sangat bergantung pada kemampuan bangsa untuk melindungi, mengelola, dan memastikan manfaat teknologi tersebut untuk kepentingan strategis nasional. Investasi dalam talenta digital, riset AI, penguatan infrastruktur mikroprosesor, serta perlindungan infrastruktur kritis menjadi fondasi utama bagi kedaulatan Indonesia di tengah kompetisi global berbasis AI yang terus berkembang pesat.

Sumber: AI Dan Ancaman Siber Menguji Kedaulatan Digital Indonesia Di Tengah Persaingan Global
Sumber: AI, Geopolitik, Dan Ancaman Siber: Tantangan Kedaulatan Digital Indonesia Di Era Kompetisi Teknologi Global