Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan pada tahun 2025. Hal ini ditandai dengan tidak adanya impor beras sepanjang tahun tersebut, dengan stok pangan yang mencetak rekor serta produksi beras yang melebihi kebutuhan. Capaian ini mengingatkan publik pada keberhasilan serupa 41 tahun lalu di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Kala itu, Indonesia pertama kali mencapai swasembada beras, mengubah posisi negara ini di dunia dan membantu mengatasi masalah pangan global.
Penantangannya terhadap pandangan negatif tentang ketersediaan pangan di Indonesia dimulai sejak tahun 1970-an, ketika negara ini digolongkan sebagai negara miskin yang selalu bergantung pada impor beras. Namun, perubahan signifikan terjadi pada dekade 1980-an dengan Pemerintah Orde Baru menempatkan beras sebagai prioritas pembangunan. Program intensifikasi pertanian diluncurkan, seperti pengembangan infrastruktur irigasi, penggunaan bibit unggul, dan subsidi pupuk.
Dampak dari upaya tersebut sangat terasa, di mana produksi beras nasional mencapai puncaknya pada 1984 dan Indonesia berhasil mencapai swasembada beras. Keberhasilan ini mendapat pengakuan internasional, di mana Soeharto diundang untuk berbicara di hadapan anggota Badan Pangan dan Pertanian PBB mengenai transformasi Indonesia dari negara krisis pangan menjadi negara swasembada beras. Pada tahun yang sama, Indonesia bahkan memberikan bantuan beras kepada korban kelaparan di Afrika.
Meski demikian, kejayaan Indonesia sebagai negara swasembada beras tidak berlangsung lama. Pada akhir 1980-an, kebijakan pemerintah mulai bergeser ke arah industrialisasi dan perhatian terhadap sektor pertanian menurun. Hal ini menyebabkan kembali dibukanya keran impor beras dalam skala besar oleh Indonesia. Ini menegaskan bahwa upaya mencapai swasembada pangan memerlukan ketekunan, perhatian, dan komitmen yang konsisten dari pemerintah dan masyarakat.
