Nuklir Rusia Terdeteksi Dekat, AS Siagakan Militer

by -102 Views

Sebagai bagian dari rubrik CNBC Insight, naskah ini memberikan insight tentang kondisi masa lalu yang relevan dengan situasi saat ini. Pemerintah Rusia telah mengumumkan bahwa mereka tidak terikat oleh batasan jumlah hulu ledak nuklir setelah perjanjian pengendalian senjata terakhir dengan AS, New START, berakhir pada hari Kamis. Hal ini membebaskan dua kekuatan nuklir terbesar dunia dari pembatasan yang selama ini menjadi pagar pengaman strategis. Dengan berakhirnya perjanjian tersebut, batas maksimum hulu ledak, mekanisme inspeksi, dan transparansi senjata nuklir juga menghilang.

Ini menjadi tanda bahaya bagi dunia, mengingat sejarah mencatat bahwa absennya aturan main nuklir pernah membawa manusia ke ambang kehancuran, seperti saat Krisis Rudal Kuba terjadi pada tahun 1962. Pada saat itu, ketegangan antara AS dan Uni Soviet hampir memicu perang nuklir akibat penempatan rudal di Kuba.

Sejak 1945, AS dan Uni Soviet telah menjadi dua negara dengan persenjataan nuklir terbanyak di dunia. Namun, pada tahun 1962, keseimbangan tersebut terguncang ketika AS mencurigai kehadiran militer Uni Soviet di Kuba. Hal ini memicu ketegangan yang akhirnya terpecahkan melalui kompromi diplomatik, mencegah terjadinya perang nuklir. Pengalaman pahit tersebut kemudian mendorong kedua negara untuk membangun jalur komunikasi darurat dan merancang perjanjian pembatasan senjata strategis seperti SALT (1972), START (1991), hingga New START (2010).

Dengan berakhirnya New START tanpa perpanjangan, dunia kini menghadapi ketidakpastian dalam hal kendali senjata nuklir. Hal ini menegaskan pentingnya perjanjian pengendalian senjata untuk menjaga perdamaian dan keamanan global. Jangan lupakan, bahwa sejarah telah mengajarkan kita bahwa keberadaan aturan main dalam hal senjata nuklir sangat penting untuk mencegah bencana yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Source link