15 tahun yang lalu, Jepang dilanda gempa raksasa yang mencapai M9, disertai tsunami setinggi 40 meter. Bencana ini mengakibatkan kerusakan parah terutama di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima. Selain tsunami, kebocoran radiasi dari PLTN Fukushima mengakibatkan evakuasi puluhan ribu warga dan menyebabkan kematian akibat dampak radiasi.
Pada dasarnya, kebocoran radiasi bukanlah penyebab langsung kematian, tetapi penanganan medis yang buruk dapat berdampak serius. Fenomena “asal bapak senang” atau ABS yang terjadi di Jepang juga dianggap sebagai salah satu faktor yang menyebabkan kebocoran reaktor nuklir di Fukushima. Budaya kerja yang terlalu hierarki dan sulit menyampaikan kritik pada atasan bisa menjadi penghambat dalam penanganan krisis.
Para ahli sebenarnya sudah menemukan indikasi kerentanan pada sistem reaktor Fukushima beberapa minggu sebelum bencana terjadi. Namun, karena berbagai alasan seperti ketakutan terhadap konsekuensi profesional, hal ini tidak ditindaklanjuti dengan serius oleh pihak pengelola. Rekomendasi untuk memperkuat fasilitas nuklir di wilayah rawan gempa juga tidak dijadikan keputusan strategis.
Insiden di PLTN Fukushima menjadi pelajaran berharga bagi Jepang untuk tidak meremehkan risiko bencana alam dan juga pentingnya transparansi dalam organisasi. Kombinasi risiko alam yang besar dan budaya kerja tertutup bisa berujung pada bencana yang lebih besar. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan rekomendasi para ahli dan memperkuat sistem keamanan dalam mengelola fasilitas nuklir.
