Tradisi Membeli Baju Baru untuk Lebaran yang Memicu Kisah Tragis di Jakarta
Tingginya kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran seringkali tidak sebanding dengan pendapatannya. Ketimpangan ini bahkan pernah memicu tindakan kriminal tragis pada masa kolonial. Salah satu peristiwa terjadi pada perayaan Idul Fitri 1350 H atau Januari 1932 di Jakarta, yang saat itu masih bernama Batavia. Warga dihebohkan oleh kasus pembunuhan yang dilakukan seorang suami terhadap istrinya sendiri di kawasan Tanjung Priok.
Korban tewas karena permintaan sang istri untuk membeli baju baru untuk Lebaran tidak dipenuhi suaminya, Telo bin Saleh. Suami menolak karena kondisi keuangan sulit dan menyarankan merayakan Lebaran sederhana. Masyarakat Nusantara sudah lama memiliki tradisi membeli pakaian baru menjelang Lebaran, seperti yang dicatat oleh penasehat Islam Hindia Belanda, Snouck Hurgronje.
Meskipun ada keberatan terhadap tradisi tersebut, Snouck menilai larangan tidak membuat masyarakat lebih hemat. Di Aceh, masyarakat bahkan lebih memprioritaskan membeli pakaian baru dibandingkan makanan untuk hari raya. Di Batavia, warga menghabiskan banyak uang untuk Lebaran dengan membeli pakaian baru, petasan, dan makanan. Meskipun ada pandangan negatif terhadap tradisi ini, namun Lebaran dipandang sebagai hari yang istimewa yang harus dirayakan dengan penuh kegembiraan.





