Sudirman Boender, seorang Warga Negara Indonesia (WNI), memiliki pengalaman unik menjadi tentara Amerika Serikat (AS) dan lolos ke pasukan khusus NAVY SEAL. Namun, di balik status elite itu, tersimpan kisah tentang latihan kejam yang membuatnya “tobat” dan nyaris mati. Kisahnya dimulai dari Yogyakarta, di mana Boender lahir pada tahun 1920 dan akhirnya diusir dari rumah ketika masih remaja. Saat kabur ke Jakarta, nasib membawanya bertemu dengan seorang warga negara AS yang membiayai pendidikannya ke California. Perang Dunia II lalu mengubah jalannya, di mana wajib militer diberlakukan secara besar-besaran dalam situasi darurat. Boender mengakui ketakutannya, namun tidak ada ruang untuk menolak panggilan tersebut.
Boender kemudian menjalani latihan militer yang tak kenal lelah di tempat terpencil yang dia sebut sebagai “tempat jahanam”. Setelah melewati banyak ujian, hanya 20 orang yang dipilih untuk menjadi bagian dari Underwater Demolition Team (UDT). Boender menggambarkan latihan bawah air sebagai tantangan yang sangat berat, di mana hanya anugerah Tuhan belaka yang membuatnya dan rekan-rekannya bisa selamat. Meskipun menghadapi berbagai rintangan, Boender akhirnya berhasil lulus dan bahkan dipercaya menjadi komandan peleton.
Setelah kembali ke Indonesia, perjalanan Boender memang menarik banyak perhatian. Namun, pengalaman berat yang dia alami juga memberinya pelajaran pahit. Menjadi tentara asing bukanlah kisah heroik semata, melainkan penuh paksaan, ketakutan, dan latihan kejam yang membuatnya merasa bertobat. Keberhasilannya selamat dari berbagai ujian menjadi bentuk anugerah luar biasa yang dia syukuri.
WNI Bergabung Tentara AS, Alami Perang dan Nyaris Meninggal





