Setelah mengalami penampilan buruk dalam musim Formula 1 2025, Alpine dan Red Bull kini berada di urutan yang sama setelah tiga putaran dalam musim 2026. Dengan Pierre Gasly mengalahkan Verstappen pada Grand Prix Jepang, kedua tim sama-sama meraih 16 poin, tetapi Alpine memimpin dalam hitungan balik.
Penampilan buruk RB22 membuat kedua pembalap Red Bull tidak puas dengan performa dan perilaku mobil. Ketidakpastian untuk meningkatkan situasi terus berlanjut. Hadjar dan Verstappen yang lolos ke urutan delapan dan 11 di Suzuka, merasakan ketidakpuasan tersebut. Mereka menganggap mobil tersebut sulit dikendalikan dan tidak teratur.
Berbagai masalah teknis juga memperparah situasi Red Bull dengan Hadjar dan Verstappen terpaksa keluar dari balapan Melbourne dan Shanghai yang membuat mereka kehilangan 16 poin potensial.
Di sisi lain, meskipun Franco Colapinto mengalami kesulitan, Gasly telah memaksimalkan potensi Alpine, setelah tim tersebut mengorbankan kampanye 2025 untuk fokus pada peraturan baru 2026 di awal musim.
Haas yang finis keempat bahkan sebelum putaran Jepang, masih lebih unggul dari Red Bull dalam klasemen. Meskipun Red Bull Ford sebagi produsen unit tenaga baru sebelum musim dimulai, membuat banyak orang ragu, namun kelemahan RB22 ada di bagian lain menurut Hadjar.
Mungkin uji coba Pirelli yang akan datang dijadwalkan berlangsung di Suzuka bisa membantu memperbaiki situasi ke depan. Hadjar berharap upgrade yang akan dilakukan bisa memberikan hasil yang memuaskan. Tambahannya pelaporan oleh Jake Boxall-Legge dan Ronald Vording.
Alpine Secures Lead over Red Bull in 2026 F1 Championship: What Went Wrong?





