Menteri Keuangan RI Mengundurkan Diri karena Alasan Kesehatan

by -103 Views

Menteri Keuangan Pertama RI, Samsi Sastrawidagda Mundur karena Sakit

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia – Membuka lembaran sejarah, ternyata ada sosok Menteri Keuangan Indonesia yang jatuh sakit hingga harus mengundurkan diri karena tak lagi kuat secara fisik untuk menjalankan tugasnya. Sosok yang dimaksud adalah Menteri Keuangan pertama RI, Samsi Sastrawidagda.

Samsi mengundurkan diri pada 26 September 1945, hanya sekitar dua minggu setelah menjabat sejak awal September. Keputusan itu diambil karena kondisi kesehatannya yang terus memburuk di tengah situasi negara yang masih sangat rapuh secara ekonomi.

Langkah Kritis Menteri Samsi Sastrawidagda

Mengutip riset Beyond Political Skin: Colonial to National Economies in Indonesia and Vietnam (2016), di tengah kondisi genting tersebut, Samsi sempat melakukan langkah krusial yang berdampak besar bagi republik muda. Dia berhasil mengamankan dana milik pemerintah Hindia Belanda yang sempat disita dan tersimpan di bank Jepang.

Berkat kedekatannya dengan pejabat Jepang, Samsi membujuk agar dana tersebut diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Uang itu kemudian dimasukkan ke kas negara dan menjadi salah satu modal awal pembiayaan republik.

Masalah Kesehatan Sebagai Faktor Utama Pengunduran Diri

Padahal, Samsi bukan sosok sembarangan. Menurut koran Het Vaderland (18 November 1925), dia termasuk sedikit orang Indonesia pada masanya yang berhasil meraih gelar doktor di bidang ilmu perdagangan dari Rotterdam, Belanda. Kariernya di bidang keuangan terbangun sejak era pendudukan Jepang, saat dia menjabat di Departemen Keuangan bentukan pemerintah militer Jepang di Surabaya.

Pengalaman itulah yang kemudian membawanya dipercaya mengisi posisi strategis sebagai Menteri Keuangan pertama setelah kemerdekaan. Setelah pengunduran dirinya, posisi Menteri Keuangan kemudian dilanjutkan oleh A. A. Maramis.

Source link