Warga Arab Berwisata ke RI untuk Mencari Tanaman Al-Quran

by -112 Views

Jejak Sejarah Kamper dalam Al-Qur’an

Sebuah ayat dalam Al-Qur’an Surah Al-Insan ayat 5 menyebutkan janji Allah kepada “orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) bercampur air kapur.” Tafsir ulama menyebutkan bahwa kafur yang dimaksud merujuk pada kamper, air yang berasal dari tanaman kamper atau kapur barus.

Kamper dalam Al-Qur’an dan Kapur Barus Modern

Kamper yang disebut dalam Al-Qur’an berbeda dengan kapur barus modern yang umum digunakan sebagai pengharum ruangan atau lemari. Sementara kapur barus modern hasil sintesis kimia dari naphthalene, kamper yang dimaksud dalam Al-Qur’an diyakini berasal dari tanaman aromatik bernama latin Dryobalanops aromatica. Tanaman ini populer di kawasan Arab karena aromanya yang khas dan manfaatnya bagi kesehatan sehingga bisa dikonsumsi.

Masyarakat Arab harus mencari pusat tanaman kamper dan membawa para pedagang ke wilayah antah berantah di bumi bagian Timur, yang kini dikenal sebagai Indonesia.

Pusat Produksi Kamper di Indonesia: Fansur (Barus), Sumatera

Para pedagang Arab mengetahui bahwa pusat produksi kamper berada di Indonesia, tepatnya di Pulau Sumatera, di daerah yang disebut Fansur atau dikenal sebagai Barus. Pedagang Arab menganggap Barus sebagai pelabuhan penting yang mengangkut berbagai komoditas, termasuk kamper.

Jejak tertua perdagangan Barus tercatat dalam sejarah pedagang Arab. Misalnya, Ibn Al-Faqih pada tahun 902 telah menyebut Fansur sebagai penghasil kapur barus, cengkih, pala, dan kayu cendana. Ahli geografi Ibn Sa’id al Magribi pada abad ke-13 merinci secara spesifik bahwa Fansur sebagai penghasil kamper berasal dari Pulau Sumatera. Bahkan ahli Romawi, Ptolemy, sudah mencatat nama Barus pada abad ke-1 Masehi.

Kedatangan dan Islamisasi di Barus

Kedatangan para pedagang Arab ke Fansur (Barus) telah membentuk hubungan perdagangan yang penting antara wilayah Arab dan Indonesia. Selain sebagai pusat produksi kamper, Barus juga menjadi tempat Islamisasi penduduk lokal di daerah tersebut. Kemungkinan kedatangan Islam di Barus sudah tercatat sejak abad ke-7 Masehi, terbukti dari kompleks makam kuno Mahligai di Barus.

Dengan demikian, kedatangan pedagang Arab ke Indonesia, khususnya Barus, tidak hanya membawa dampak dalam perdagangan, tetapi juga dalam penyebaran agama Islam di Tanah Air.

Source link