Anak Orang Penting Hidup Melarat: Bukan Anak Ortu Jual

by -110 Views

Anak Pejabat yang Menolak Bergantung pada Nama Orang Tua

Jakarta, CNBC Indonesia — Fenomena anak pejabat yang memanfaatkan pengaruh serta popularitas orang tua untuk membuka jalan menuju jabatan, pekerjaan, maupun posisi penting belakangan kerap menjadi sorotan publik. Nama besar keluarga sering kali dianggap mampu mendatangkan perhatian, dukungan, hingga rasa segan dari orang lain.

Namun, cara seperti itu justru berbanding terbalik dengan sikap yang pernah ditunjukkan Soesalit. Sosok tersebut kerap dipandang sebagai contoh bahwa seseorang tidak selalu harus bergantung pada reputasi orang tua, untuk memperoleh penghargaan dari masyarakat.

Kisah Soesalit: Menolak Berkutat dengan Nama Besar Orang Tua

Pada masanya, Soesalit jadi anak cukup beruntung. Dia lahir dari keluarga pejabat sebab ayahnya Raden Mas Adipati Ario Djojoadiningrat bertugas sebagai Bupati Rembang. Namun, dia memilih untuk tidak memanfaatkan nama besar kedua orang tuanya untuk meniti kehidupan.

Wardiman Djojonegoro dalam Kartini (2024) menceritakan bahwa Soesalit sebenarnya berhak menggantikan ayahnya sebagai bupati, namun dia mantap menolaknya. Meski banyak yang meminta agar Soesalit menerima jabatan tersebut, namun ia tetap pada pendiriannya.

Karier Soesalit dan Penghormatan Terhadap Ibunya

Soesalit memilih masuk tentara pada 1943 dan bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA), yang kemudian berperan penting dalam Tentara Keamanan Rakyat Republik Indonesia setelah Indonesia merdeka. Kariernya di bidang militer terus menanjak, dan pada tahun 1946, ia diangkat sebagai Panglima Divisi II Diponegoro yang bertugas menjaga ibu kota di Yogyakarta.

Meski merupakan anak dari tokoh besar Indonesia, R.A Kartini, Soesalit tidak pernah memanfaatkan nama beliau. Dia memilih untuk hidup sederhana sebagai seorang veteran, menolak hak-haknya dan tidak memanfaatkan statusnya sebagai putra Kartini untuk kepentingan pribadi.

Sebagai atasan Soesalit, Jenderal Nasution, menyaksikan sendiri bagaimana Soesalit tidak pernah mengumbar nama orang tuanya. Soesalit tetap memegang prinsipnya untuk tidak mencitrakan dirinya sebagai keturunan Kartini, sehingga hidupnya tetap sederhana hingga akhir hayatnya pada 17 Maret 1962.

Kesimpulan

Dengan menolak bergantung pada nama besar orang tuanya, Soesalit menunjukkan bahwa kesuksesan sejati didapatkan melalui usaha dan dedikasi pribadi, bukan hanya dengan memanfaatkan hubungan keluarga. Pilihan hidupnya yang sederhana dan prinsipnya untuk tidak memanfaatkan keturunan Kartini sebagai jalan pintas menuju kesuksesan merupakan inspirasi bagi banyak generasi.

Source link