Kontroversi Fasilitas Haji Mewah Menteri RI di Arab Saudi

by -100 Views

Menteri RI Dapat Perlakuan Istimewa saat Melaksanakan Ibadah Haji

Jakarta, CNBC Indonesia – Sebuah cerita unik mengenai salah satu menteri Indonesia yang mendapatkan perlakuan berbeda ketika menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Makkah. Menteri tersebut tidak lain adalah Bacharuddin Jusuf Habibie, yang diberikan fasilitas mewah layaknya seorang tamu kerajaan, sebuah keistimewaan yang tidak umum didapatkan oleh para jemaah haji lainnya.

Kisah Perjalanan Ibadah Haji Menteri Bacharuddin Jusuf Habibie

Pada tahun 1984, Pangeran Arab Saudi, Abdulaziz, mengunjungi Indonesia dan terkesima dengan prestasi Indonesia dalam pengembangan industri pesawat terbang. Abdulaziz memberikan hadiah istimewa kepada B.J. Habibie berupa kesempatan untuk menunaikan ibadah haji secara gratis, beserta rombongan yang terdiri dari istri, anak-anak, orang tua, dan staf terdekatnya, tanpa biaya sedikit pun.

Selain fasilitas haji gratis, B.J. Habibie dan rombongan juga mendapat perlakuan istimewa lainnya selama ibadah haji di Arab Saudi. Mereka diizinkan untuk bermalam di tenda ber-AC, dengan fasilitas yang sangat baik dan penjagaan yang ketat. Bahkan, rombongan tersebut diberi kesempatan untuk ibadah di belakang Imam Masjidil Haram, suatu kesempatan yang jarang didapatkan oleh jemaah lainnya.

Perlakuan Khusus dari Pihak Arab Saudi

Dalam pengalamannya tersebut, B.J. Habibie dianggap sebagai “tamu Allah” yang mendapatkan perlakuan istimewa dari Raja Arab Saudi. Hal ini mengundang keresahan B.J. Habibie, hingga ia berencana untuk menunaikan ibadah haji secara diam-diam di waktu berikutnya agar tidak merepotkan pihak Arab Saudi dalam memberikan perlakuan khusus.

Di tengah rencana untuk ibadah haji berikutnya secara low profile, kabar tersebut malah tersebar dan pemerintah Arab Saudi kembali memberikan perlakuan istimewa kepada Habibie dengan fasilitas yang berbeda dari jemaah haji pada umumnya. Cerita ini menjadi bukti bahwa rasa hormat dan kekaguman terhadap Habibie bukan hanya dari masyarakat Indonesia, tetapi juga dari pihak internasional.

Source link