Presiden AS Telepon Desak Presiden RI Atasi Krisis Ekonomi

by -98 Views

Bill Clinton Tekan Soeharto Setuju dengan IMF: Fakta vs Mitos

Jakarta, CNBC Indonesia – Di tengah gejolak ekonomi Indonesia, telepon dari Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, kepada Presiden Soeharto pada 9 Januari 1998 memicu sejumlah pertimbangan penting. Kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) yang didesakkan oleh Clinton, di satu sisi dianggap sebagai bantuan, tetapi di sisi lain dinilai merugikan kedaulatan ekonomi dan politik Indonesia serta membuka jalan bagi berakhirnya kekuasaan Soeharto.

Telepon Sejarah: Bantuan atau Intervensi?

Pertemuan antara Clinton dan Soeharto pada saat itu membahas krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Dalam arsip yang terbuka untuk umum pada 2018, Clinton didokumentasikan memberikan tekanan agar Indonesia bekerja sama dengan IMF. Menurut catatan tersebut, Clinton secara langsung meminta Soeharto untuk bekerja sama dengan IMF guna mengatasi krisis yang sedang terjadi.

Arsip tersebut juga mencatat respons singkat dari Soeharto, bahwa ia akan bertemu dengan IMF dan mengapresiasi bantuan yang ditawarkan. Namun, dari sejarah terbuka, terungkap bahwa Soeharto sebenarnya mulai skeptis terhadap resep IMF dan mencari alternatif dengan mengundang penasihat ekonomi AS, Steve Hanke, untuk mengusulkan Currency Board System (CBS) sebagai solusi yang dianggapnya lebih tepat.

Mitos atau Fakta Politik dan Ekonomi

Penolakan Soeharto terhadap CBS dan kesepakatan akhirnya dengan IMF senilai US$43 miliar pada 15 Januari 1998 memunculkan berbagai spekulasi. Hanke bahkan menyebut bahwa penolakan tersebut selain pertimbangan ekonomi, juga didasari oleh keinginan IMF dan pemerintah AS agar Soeharto lengser dari kekuasaan.

Sejarah mencatat bahwa akhirnya, tekanan politik dan ekonomi dari luar, terutama melalui program IMF, mendorong berakhirnya era kekuasaan Soeharto. Meskipun argumen beragam hadir terkait apakah keputusan Soeharto untuk menerima bantuan IMF sebagai intervensi eksternal atau solusi bijak dalam mengatasi krisis ekonomi, yang pasti adalah telepon dari Bill Clinton pada 1998 membuka lembaran baru dalam sejarah politik dan ekonomi Indonesia.

mfa/wur

Source link