Selama berpuluh-puluh tahun, Yasser Arafat telah menjadi figur sentral perjuangan rakyat Palestina yang hidup dalam pengejaran tanpa henti. Sebagai pemimpin yang mengembara dari kota ke kota—Amman, Beirut, Tunis, sampai akhirnya terperangkap di Ramallah—Arafat beradaptasi menghadapi ancaman perang dan operasi diam-diam dari lawan, terutama Israel, yang seolah tiada henti mengincarnya.
Banyak pengamat dan penulis, seperti Barry Rubin dan Judith Colp Rubin, menyebut perpindahan dan pelarian Arafat sebagai perjalanan epik yang memperlihatkan kegigihan seorang tokoh nasional. Identitas Arafat pelan-pelan melekat sebagai sosok perjuangan bangsa Palestina, namun pada saat bersamaan, ia menyembunyikan beragam teka-teki yang membingungkan banyak orang, dari kawan hingga lawan.
Kekaburan tentang siapa Arafat sebenarnya juga disorot oleh Said K. Aburish, yang menegaskan bahwa bayang-bayang propaganda, kerahasiaan, dan narasi yang saling bertabrakan selalu mengikuti jejak Arafat. Bagi Arafat sendiri, perjuangan Palestina bukan urusan wilayah semata, melainkan soal menyelamatkan eksistensi dan identitas bangsa yang diambang pemusnahan—gagasan yang ditegaskannya dalam berbagai wawancara.
Transformasi citra Palestina dari sekumpulan pengungsi menjadi entitas politik yang diperhitungkan, tak lepas dari peran Arafat melalui Fatah dan PLO. Lewat kiprahnya di forum-forum internasional seperti Liga Arab hingga PBB, ia menggiring isu Palestina masuk dalam percakapan perjuangan global melawan kolonialisme. Meski PLO kerap menderita kekalahan, pamor Arafat tak mudah luntur.
Tidak hanya melekat sebagai pemimpin, Arafat menjelma sebagai personifikasi perlawanan Palestina. Statusnya sebagai simbol membuat kompromi ataupun serangan terhadap dirinya tak cukup dalam bentuk fisik; harus pula menyasar citra, moral, bahkan aspek pribadinya.
Propaganda dengan cepat membangun narasi-narasi miring. Salah satu isu paling sengit—yang dibahas Al Jazeera dalam “Myth Buster: Killing Arafat”—berupa tuduhan bahwa Arafat adalah seorang homoseksual, atau bahkan pengidap AIDS. Meski berasal dari sumber-sumber intelijen dan diperkuat jejaring politik kanan, tak ada bukti medis yang pernah memvalidasi tuduhan itu. Selain dianggap fitnah, rumor tersebut dipandang hanya sebagai upaya untuk menjatuhkan martabat Arafat di mata dunia.
Para koleganya membantah isu buruk itu. Dalam kesaksiannya, Bassam Abu Sharif menegaskan bahwa semua itu tidak berdasar, dan hanya bagian strategi sistematis untuk mendiskreditkan Arafat sebagai pemimpin. Propaganda demikian menjadi senjata perang, bagian dari operasi lebih besar untuk menghancurkan simbol perlawanan.
Kontroversi mengenai Arafat tidak berhenti pada urusan pribadi. Misteri terbesar menimpa hari-hari terakhir hidupnya. Ketika Arafat tiba-tiba jatuh sakit tahun 2004 dan meninggal tanpa autopsi, lahir kecurigaan besar tentang kemungkinan racun sebagai penyebab kematian. Investigasi ilmiah, termasuk temuan kadar Polonium-210 yang tidak biasa dalam jenazahnya, hanya menambah tanya—siapa pelaku di balik tragedi itu belum pernah terungkap pasti.
Kehidupan Arafat yang selalu dikelilingi operasi rahasia menjadikan dugaan pembunuhan bukan hal yang asing. Teman-temannya, seperti Bassam Abu Sharif, langsung teringat pada tokoh lain yang pernah diracun layanan intelijen. Gejala yang menimpa Arafat saat itu dianggap terlalu ganjil untuk disebut penyakit biasa, apalagi ada sejarah panjang dunia intelijen yang membayangi perjuangan Palestina.
Namun, di tengah segala rumor dan tuduhan, Arafat tetap berupaya menempatkan isu inti, yaitu hak dan identitas bangsa Palestina, sebagai agenda utama. Ia pernah berkata bahwa keberhasilan terbesar rakyat Palestina adalah memulihkan jati diri mereka, bukan hanya dalam kenangan, juga dalam institusi mereka seperti PLO. Bagi Arafat, kemerdekaan tak cukup hanya sebatas wilayah; harus menjangkau ranah ingatan, kebudayaan, dan institusi politik agar bangsa tetap hidup.
Persoalan siapa Yasser Arafat, tubuh, reputasi, moralitas, sampai penyebab kematiannya, menjadi ruang pertarungan bagi banyak kepentingan. Ada yang melihatnya sebagai ikon anti-penjajahan, sementara yang lain menganggapnya dalang jalan buntu dalam proses perdamaian. Namun karakter kompleks Arafat, menolak untuk sepenuhnya dijadikan sosok suci, begitu pun tak bisa semata dimusuhi melalui propaganda.
Memori tentang Arafat tetap diperebutkan hingga hari ini, diliputi mitos, misteri, dan intrik yang seakan tak pernah padam. Selama simbol perlawanan yang diwakilinya belum mati, warisannya akan selalu menjadi medan pertempuran narasi. Ironisnya, semakin keras usaha mengaburkan atau menjatuhkannya, semakin kuat Arafat hidup dalam memori bangsa Palestina dan sejarah Timur Tengah. Mitos tentang kehidupan dan kematiannya pun mengingatkan dunia bahwa pertanyaan tentang Palestina masih terbuka dan belum menemukan titik akhir.
Sumber: Yasser Arafat: Simbol Palestina Di Tengah Mitos, Propaganda, Dan Misteri Kematian
Sumber: Yasser Arafat Dan Politik Mitos





