Menteri RI: Tak Punya Rumah & Hidup Miskin Meski Pimpin Megaproyek

by -104 Views

Menteri Termiskin yang Hidup Sederhana Meski Pimpin Megaproyek

Jakarta, CNBC Indonesia – Memimpin proyek raksasa terkadang menjadi godaan besar bagi pejabat negara. Anggaran bernilai jumbo dalam proyek pembangunan infrastruktur kerap dikaitkan dengan praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Namun, itu tak berlaku bagi Menteri Pekerjaan Umum era Orde Baru, Sutami.

Selama 14 tahun menjabat sebagai menteri dalam delapan kabinet, Sutami konsisten menolak memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri. Di tengah banyaknya proyek besar yang berada di bawah tanggung jawabnya, dia justru memilih hidup sederhana hingga dijuluki “Menteri Termiskin”.

Sikap Sederhana Menteri Pekerjaan Umum

Staf Ahli Sutami, Hendropranoto, dalam kesaksian berjudul Sutami Sosok Manusia Pembangunan Indonesia menceritakan, salah satu sikap itu tercermin pada kebiasaan berjalan kaki ketika mengunjungi suatu wilayah, khususnya perdesaan dan pelosok. Dia rela berjalan kaki berkilo-kilo karena tak ingin merepotkan orang.

Dengan cara itu, Sutami bisa mengetahui implementasi pengerjaan proyek di bawah naungannya. Selain itu, jika ada permasalahan, bisa cepat diselesaikan. Baginya, pembangunan infrastruktur di pedesaan dan pelosok wilayah lebih bermanfaat bagi rakyat kecil, alih-alih difokuskan untuk kepentingan industri dan pengusaha.

Kehidupan dan Karya Pasca Menteri

Meski berkecimpung di sektor yang sering dianggap “lahan basah”, Sutami sama sekali tak mengambil uang negara. Bahkan, rumah pribadi saja tak punya. Dia baru memiliki rumah setelah berhenti menjadi menteri pada 29 Maret 1978 karena sakit, itu pun pembelian rumah dilakukan lewat cicilan per bulan.

Setelah pensiun, Sutami hidup jauh dari kemewahan. Rumah yang masih dicicil itu pernah diputus aliran listriknya. Lalu, ketika sakit pun, Sutami enggan ke rumah sakit karena takut tidak bisa membayar biaya pengobatan. Ia mengidap penyakit liver kronis yang diduga muncul karena kurangnya asupan makanan bergizi dan kelelahan akibat sering bepergian dengan berjalan kaki.

Karya-karya Sutami, seperti Tol Jagorawi, Jembatan Semanggi, Jembatan Ampera, dan berbagai infrastruktur lainnya, masih dirasakan manfaatnya hingga saat ini bagi masyarakat Indonesia.

Source link