Dipanggil ke Istana: Jenderal TNI Jadi Pengganti Presiden

by -100 Views

Presiden Soekarno Berwasiat ke Jenderal Ahmad Yani

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu

Jenderal Ahmad Yani Dipanggil oleh Soekarno

Presiden Indonesia memanggil seorang jenderal TNI usai mendapat wangsit saat tidur siang. Kepada sang jenderal, dia menyampaikan bahwa sosok itulah yang harus menggantikannya memimpin Indonesia apabila suatu saat dirinya tak lagi menjabat.

Kisah ini melibatkan Presiden Soekarno dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Ahmad Yani yang lahir tepat hari ini 104 tahun lalu. Pada September 1965, Ahmad Yani yang sedang bermain golf mendapat panggilan mendadak dari Soekarno untuk datang ke Istana Negara.

Wangsit untuk Menggantikan Presiden

Tanpa sempat berganti pakaian, Yani langsung bergegas memenuhi panggilan tersebut. Begitu sampai, Soekarno langsung menjelaskan alasan dirinya memanggil sang jenderal.

Menurut penuturan Ahmad Yani, Soekarno memintanya bersiap menjadi Presiden Indonesia karena baru saja mendapat wangsit saat tidur siang.

“Yani, saya baru tidur siang dan dalam tidur saya menerima wangsit dari Yang Maha Kuasa, yaitu kalau ada apa-apa dengan saya, sehingga saya tidak dapat menjalankan tugas kepresidenan, ataupun saya mati, maka kau harus menggantikan saya menjadi Presiden Republik Indonesia,” kata Soekarno seperti dituturkan Yani.

Mendengar hal tersebut, Ahmad Yani terkejut. Dia tidak langsung menerima begitu saja ucapan sang presiden. Menurutnya, masih banyak tokoh lain yang lebih senior dan memiliki posisi politik lebih kuat untuk menjadi penerus Soekarno.

Bahkan jika harus berasal dari kalangan militer, Yani menilai masih ada sosok yang lebih senior, yakni Jenderal A.H. Nasution. Namun, Bung Karno tetap bersikukuh bahwa Ahmad Yani adalah sosok yang harus menggantikannya apabila sesuatu terjadi pada dirinya.

Kisah Tragis Ahmad Yani

Alih-alih menjadi Presiden Republik Indonesia, Ahmad Yani justru gugur dalam salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia.

Setelah pergolakan politik pasca-Gerakan 30 September 1965, jabatan Presiden RI akhirnya beralih kepada Jenderal Soeharto.

Source link