Saat Jenderal TNI Menangis dan Ribut dengan Asisten Pribadi Presiden

by -91 Views

Jenderal TNI Menangis Saat Ribut dengan Asisten Pribadi Presiden

Momen menegangkan terjadi di lingkaran kekuasaan Presiden Indonesia pada akhir 1973 ketika seorang Jenderal TNI bintang empat terpaksa menangis. Perseteruan antara Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), Jenderal Soemitro, dan Asisten Pribadi (Aspri) Presiden, Mayor Jenderal Ali Moertopo, mencapai titik puncak yang memaksa mereka berhadapan langsung dengan Presiden Soeharto.

Soemitro dan Ali Moertopo adalah dua figur kuat di lingkaran kekuasaan Orde Baru dengan pengaruh yang besar. Konflik di antara keduanya sudah memanas sejak lama, dengan benturan kepentingan yang sulit dihindari. Soemitro memegang posisi strategis dalam urusan keamanan nasional, sementara Ali Moertopo memiliki akses luas ke Istana dan mengontrol berbagai operasi intelijen. Persaingan di antara keduanya menjadi semakin tegang dan berujung pada pertemuan khusus dengan Presiden Soeharto.

Momen Tangis Jenderal Soemitro

Dalam pertemuan tersebut, Ali Moertopo menyampaikan sejumlah pertanyaan tajam kepada Soemitro terkait tindakannya yang dianggap merugikan. Sebelum Soemitro dapat menjawab pertanyaan tersebut, tangis Jenderal bintang empat itu pun pecah. Pertemuan terhenti sejenak untuk memberi waktu pada Soemitro menenangkan diri.

Setelah tangisnya mereda, Soemitro membantah tuduhan dan justru menegaskan bahwa tidak ada niat dari dirinya untuk mengambil alih kekuasaan presiden. Presiden Soeharto pun menegaskan bahwa jalan yang harus ditempuh siapapun yang ingin berkuasa adalah dengan jalan konstitusional, bukan melalui metode lain seperti kudeta.

Usai pertemuan, kedua pihak menggelar konferensi pers bersama untuk membantah adanya perpecahan di tubuh pemerintahan dan militer. Meskipun demikian, gelagat Soemitro yang loyo dan kurang semangat membuat publik curiga akan ketegangan di balik layar. Peristiwa ini berakhir saat Soemitro mundur dari jabatannya sebagai Panglima Kopkamtib dua pekan setelahnya karena dianggap gagal mengatasi kerusuhan Malari.

Konflik di antara Soemitro dan Ali Moertopo menunjukkan kompleksitas kekuasaan di lingkaran Orde Baru pada masa itu. Meski Soemitro ‘menang’ dengan mundurnya dari jabatan, namun tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi Soeharto untuk lebih mengontrol lingkaran kekuasaannya agar terhindar dari konflik serupa di masa depan.

Source link