Anggaran Proyek Rp1,7 T Tak Cair: Presiden RI Marahi Menteri Ekonomi

by -60 Views

Soeharto Murka Karena Anggaran Proyek Rp1,7 Triliun Tak Cair

Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden ke-2 RI, Soeharto pernah murka dan memarahi seluruh jajaran menteri ekonomi karena anggaran megaproyek Rp1,7 triliun yang tak kunjung dicairkan. Proyek yang dimaksud adalah Proyek Asahan, hasil kerja sama Indonesia dengan sejumlah perusahaan Jepang yang ditandatangani pada 6 Juli 1975, tepat hari ini 51 tahun lalu.

Mengutip situs PT INALUM, Proyek Asahan merupakan proyek industri dan kelistrikan yang memanfaatkan aliran Sungai Asahan di Sumatera Utara sebagai sumber energi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk memasok kebutuhan pabrik peleburan aluminium. Pada masanya, proyek tersebut menjadi salah satu investasi terbesar di Indonesia dengan nilai mencapai 411 miliar yen atau sekitar Rp1,7 triliun.

Soeharto Tegaskan Pentingnya Proyek Asahan

Besarnya nilai investasi membuat Soeharto memberi perhatian khusus terhadap proyek tersebut. Dia menunjuk orang kepercayaannya sesama tentara, A.R. Soehoed, sebagai Ketua Otorita Proyek Asahan untuk mengawal pelaksanaannya. Namun, setahun setelah kerja sama diteken, proyek justru menghadapi kendala. Anggaran yang dibutuhkan untuk menopang pembangunan tak kunjung turun dari pemerintah.

Soehoed berulang kali menanyakan persoalan tersebut kepada para menteri terkait, tetapi tak kunjung memperoleh kepastian. Akibat tak menemukan jalan keluar, Soehoed kemudian melaporkan persoalan itu kepada Presiden Soeharto. Sang presiden awalnya meminta Soehoed kembali berkoordinasi dengan para menteri ekonomi, namun hasilnya tetap nihil.

Presiden Marah kepada Para Menteri

“Tapi, saya minta sama Menko Ekuin, tidak ditanggap juga. Jadi, akhirnya saya datang lagi pada Pak Harto,” ujar Soehoed. Mendengar laporan tersebut, Soeharto kembali memastikan apakah berbagai upaya benar-benar sudah dilakukan. “Kita berusaha saja enggak berhasil,” jawab Soehoed.

Menurut penuturannya, wajah Soeharto seketika berubah merah. Presiden hanya memberi jawaban singkat dan meminta Soehoed datang kembali ke kediamannya di Jalan Cendana pada sore hari. Soehoed mendapati dirinya tidak sendirian di sana. Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwana IX beserta seluruh jajaran menteri ekonomi hadir dalam pertemuan tersebut.

Soeharto meluapkan kemarahannya kepada para pembantunya karena menganggap mereka tidak memberi perhatian serius terhadap proyek yang dinilai sangat penting bagi masa depan industri nasional. Saat anggaran mulai mengalir, pembangunan kembali dilanjutkan hingga Proyek Asahan resmi diresmikan pada 6 November 1984.

Kerja sama Indonesia dengan konsorsium perusahaan Jepang berakhir pada 9 Desember 2013. Sejak saat itu, kepemilikan Proyek Asahan sepenuhnya berada di tangan pemerintah Indonesia melalui BUMN PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM).

Source link