Proyek RI Menakjubkan yang Mengesankan Belanda

by -127 Views

Sedyatmo: Sang Insinyur Indonesia yang Memukau Orang Belanda

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini.

Jakarta, CNBC Indonesia – Sebuah proyek karya insinyur Indonesia pernah membuat orang Belanda terpukau. Rancangannya dinilai menyimpang dari rumus yang selama ini menjadi acuan para insinyur dunia. Namun, di balik pendekatan teknik yang modern itu, sang perancang ternyata sempat menjalankan tradisi Jawa dengan menanam kepala kerbau sebelum pembangunan dimulai.

Sedyatmo dan Proyek Jembatan Air Wiroko

Pada 1936, dua tahun setelah meraih gelar insinyur, Sedyatmo mendapat kepercayaan dari Mangkunegoro VII untuk membangun jembatan air di Desa Wiroko, Wonogiri. Jembatan itu dibuat untuk menyalurkan air dari Sungai Wiroko agar dapat dimanfaatkan para petani di wilayah sekitar.

Proyek tersebut bukan pekerjaan mudah. Lokasi pembangunan masih terpencil, akses jalannya belum memadai, dan kawasan sekitarnya dipenuhi ular berbisa. Meski begitu, Sedyatmo tidak gentar. Ia menyusun rancangan jembatan dengan prinsip hemat bahan, hemat biaya, dan hemat waktu, tetapi tetap menghasilkan bangunan yang kuat dan berkualitas.

Keberhasilan dan Dukungan dari Prof. Ir. Bijlaard

Menariknya, meskipun garapannya menuai penolakan dari insinyur Belanda yang menganggap rancangannya menyimpang, hasil akhir proyek tersebut membuktikan sebaliknya. Jembatan Air Wiroko kokoh berdiri dan mengesankan, menguatkan keyakinan Sedyatmo bahwa teori dalam buku tidak selalu benar.

Kepemimpinan Sedyatmo dalam proyek tersebut menjadi titik balik dalam kariernya. Prestasinya menarik perhatian Prof. Ir. Bijlaard, salah satu pejabat tinggi di Departemen Pekerjaan Umum (PU) Hindia Belanda, yang kemudian menawarkan Sedyatmo untuk bergabung dengan departemen tersebut.

Dari sinilah, Sedyatmo terus menorehkan prestasi demi prestasi. Mulai dari menjadi Profesor ITB bidang Tenaga Air tahun 1953 hingga melahirkan inovasi konstruksi fondasi “cakar ayam” pada tahun 1961 yang mendapat pengakuan internasional.

Source link