Republik Baru Dekat Jakarta Putus Hubungan dengan Indonesia

by -60 Views

Pergolakan Politik di Tangerang Pasca Proklamasi Kemerdekaan

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia – Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 tidak serta-merta membuat seluruh wilayah Indonesia berada dalam kondisi yang stabil. Di Tangerang, misalnya, terjadi pergolakan politik yang bahkan sempat melahirkan pemerintahan sendiri bernama Republik Tangerang dan menyatakan putus hubungan dengan pemerintah Republik Indonesia di Jakarta.

Awal Mula Pergolakan di Tangerang

Pergolakan tersebut mulai terjadi pada Oktober 1945. Salah satu pemicunya adalah kekecewaan terhadap Bupati Tangerang Agus Padmanegara. Menurut riset terbaru, sejumlah kelompok masyarakat menilai Agus tidak mampu menjalankan pemerintahan dengan baik dan dianggap berpihak kepada Belanda.

Kekecewaan itu kemudian berkembang menjadi gerakan untuk mengambil alih pemerintahan. Pada 18 Oktober 1945, di Curug, Tangerang, Ahmad Khaerun mengoordinasikan gerakan tersebut. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai “Bapak Rakyat”.

Periode Republik Tangerang

Massa kemudian bergerak menuju kediaman Bupati Agus Padmanegara untuk memaksa penyerahan kekuasaan. Meskipun Agus tidak ada di rumah, pengambilalihan pemerintahan tetap dilakukan, dikenal sebagai aksi daulat.

Ahmad Khaerun dan kelompoknya membentuk pemerintahan baru dengan memisahkan diri dari pemerintahan pusat di Jakarta. Keputusan ini menandai berdirinya Republik Tangerang dengan Ahmad Khaerun sebagai Bupati Tangerang.

Pemerintahan baru ini, meskipun memutuskan hubungan dengan pemerintahan RI di Jakarta, tidak mampu menciptakan stabilitas di wilayah Tangerang. Anarkisme merebak dan situasi keamanan semakin memburuk.

Pengambilalihan Kembali ke Pemerintahan RI

Tiga bulan setelah berkuasa, pada 14 Januari 1946, Tentara Keamanan Rakyat di bawah pimpinan Letkol Singih mengambil alih pemerintahan Tangerang tanpa pertumpahan darah. Kekuasaan kemudian dikembalikan kepada Republik Indonesia, mengakhiri episode singkat Republik Tangerang.

Source link