Krakatau Meletus: Tsunami 30M Sapu Kota, Warga Nyangkut di Pohon

by -66 Views

Cerita Penuh Air Mata Dibalik Letusan Krakatau

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia – Hari ini 143 tahun yang lalu, Gunung Krakatau di Selat Sunda menggeluarkan ledakan dahsyat. Tsunami mematikan yang diakibatkannya merenggut nyawa sekitar 36.000 jiwa. Namun di tengah tragedi yang mengguncang, ada satu kisah tentang keajaiban keselamatan. Ong Leng Yauw, nama itu bertahan.

Petualangan Ong Leng Yauw dan Bencana Krakatau

Ong, masih berusia 14 tahun pada saat itu, tinggal di Karangantu, Banten. Pada 27 Agustus 1883, dia berangkat bersama temannya, Ong Boen Seng, pergi ke Banten membeli kue sembahyang. Mereka tak menyadari saat itu bahwa Karangantu, wilayah yang dulu merupakan daerah pesisir yang ramai sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan.

Keduanya dan ribuan masyarakat Banten dan Sumatra Selatan sudah mendengar gemuruh selama tiga bulan. Namun, tidak ada yang tahu asal muasal suara tersebut. Hanya angin mendengung misteri di udara.

Keajaiban Selamat dari Bencana

Pada saat suara gemuruh berubah menjadi dentuman besar, abu vulkanik pun mulai turun dari langit. Hari pun gelap gulita. Banten terasa seperti surganya runtuh. “Tangan di depan mata tak terlihat,” kata Ong menuturkan kisahnya.

Mereka berdua digegerkan oleh suara ombak yang menderu. Tanpa pikir panjang, Ong berenang untuk menyelamatkan diri. Tersangkut di pohon, dia menunggu air surut sembari berharap bencana berakhir. Suasana kepanikan, suara teriakan memenuhi udara, tetapi tak ada gambaran nyata.

Sementara Boen Seng, rekan Ong, berhasil selamat juga. Berpegangan pada atap lumbung yang hanyut oleh air, Boen Seng memutuskan bertahan hidup berpegangan pada pohon yang berhasil menahannya dengan kokoh.

Terhempas, Tapi Tak Patah Semangat

Selama bertahan di pohon, Ong melihat air laut menenggelamkan hutan. Pohon kelapa yang tingginya biasanya 15-30 meter tenggelam tak bersisa. Kini riset membenarkan perkataan Ong, tsunami menghantam setinggi 30 meter yang meraup segala sesuatu.

Namun, bencana tak berakhir saat air surut. Pemandangan kehancuran menyapa Ong ketika turun dari pohon. Semua hancur. Jasad manusia dan binatang terselimuti abu, rumah rata dengan tanah. Keadaan serupa di kampung halamannya, segalanya musnah.

Ong kehilangan segalanya, rumahnya, harta benda keluarga binasa. Meskipun seperti itu, dia, Boen Seng, dan dua perempuan lainnya menemukan keselamatan bergantung di atas pohon. Dua wanita itu akhirnya meninggal dunia karena tak kuasa menahan kesedihan.

Ong, kehilangan harta dan rumah, menerima bantuan beras dan uang 1,5 gulden per minggu. Dia diungsikan ke Batavia dan kembali menerima bantuan. Kepiawaian Ong melewati bencana maha dahsyat ini membangkitkan semangat bagi banyak korban lainnya.

Kenangan Mengharukan dari Bencana Krakatau

Terhanyut dalam kerumitan bencana, kisah Ong Leng Yauw tak terlupakan. Pada 1937, setelah 54 tahun peristiwa Krakatau, dia mendokumentasikan pengalamannya dalam memoar yang kemudian dikenang sebagai Apa jang saja denger tentang kamandjoerannja klenteng Kwan Im di Bantam.

Kini, Gunung Krakatau telah sirna, tetapi Anak Krakatau, keturunannya, masih menunjukkan keganasannya. Aktivitas erupsi masih kerap terjadi, mengingatkan kita pada kisah tragis yang melibatkan Ong Leng Yawu dan bencana dahsyat Krakatau.

Source link