Fakta Tidak Dijajah Belanda: Mitos atau Realitas?

by -242 Views

Masyarakat Indonesia selama ini telah meyakini bahwa Indonesia dijajah selama 3,5 abad atau 350 tahun oleh Belanda. Namun, pada tahun 1968, ahli hukum bernama Gertrudes Johannes Resink berhasil mematahkan mitos tersebut melalui karyanya Indonesia’s History Between the Myths: Essays in Legal History and Historical Theory. Resink melakukan riset yang mendalam untuk menegaskan bahwa sebenarnya Indonesia tidak dijajah selama 350 tahun oleh Belanda.

Penelitian Resink mengungkap bahwa kedatangan orang Belanda pertama kali ke Indonesia pada tahun 1596 tidak secara langsung untuk tujuan penjajahan, melainkan untuk berdagang. Meskipun dari perdagangan itulah proses kolonialisme akhirnya terbentuk. Pemerintah kolonial Belanda baru terbentuk pada tahun 1800 setelah VOC bangkrut, bukan dalam satu waktu bersamaan.

Resink melalui pembedahan dokumen-dokumen hukum dan surat perjanjian kerajaan di Indonesia menemukan bahwa masih banyak kerajaan dan negara di Indonesia yang tidak pernah ditaklukkan Belanda sampai tahun 1900-an. Bahkan, ada kerajaan lokal yang bisa menjalin hubungan diplomatik dengan bangsa lain tanpa campur tangan VOC pada abad ke-17. Dari risetnya, Resink menyimpulkan bahwa tidak ada satu pun wilayah di Indonesia yang benar-benar dijajah selama 350 tahun. Penjajahan Belanda terhitung mulai dari penaklukan terakhir seperti di Klungkung, Bali, pada tahun 1908, yang menghasilkan waktu penjajahan sekitar 37 tahun.

Meskipun kekeliruan terjadi, Belanda tetap dengan ngototnya menyebut telah menjajah Indonesia selama 350 tahun. Kesalahan pandangan ini pada dasarnya merupakan bentuk kegagahan. Berkat sumbangan risetnya, Gertrudes Johannes Resink dihormati di Indonesia dan diberi kewarganegaraan oleh Soekarno pada tahun 1950. Meskipun mitos penjajahan telah dipatahkan, masih banyak orang yang tetap meyakini bahwa Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah perlu diperiksa secara mendalam agar tidak terjebak dalam narasi yang salah.

Source link