Nenek Moyang Rohana-Rojali: Rocita Sang Penguasa Mal Terungkap

by -242 Views

Fenomena Rojali dan Rohana, atau bisa disebut sebagai Rocita, merupakan hal yang kini semakin marak di pusat perbelanjaan di Indonesia. Meskipun kehadiran mereka dapat meningkatkan okupansi mal, namun kontribusi mereka terhadap pendapatan pelaku usaha cenderung minim. Istilah Rojali dan Rohana mungkin baru populer belakangan ini, namun praktiknya sudah ada sejak lama dalam bentuk “cuci mata”, di mana orang hanya melihat-lihat tanpa berniat membeli. Pembangunan mal dalam dekade 1990-an menjadi alternatif hiburan bagi warga kota, yang pada saat itu ruang terbuka hijau terbatas dan taman kota kurang terawat.

Istilah “cuci mata” sendiri berasal dari istilah bahasa Inggris “window shopping”, namun di Indonesia, maknanya berkembang menjadi lebih dari sekadar melihat barang. Fenomena ini telah tercatat dalam berbagai laporan media sejak beberapa dekade lalu. Kehadiran mal yang menawarkan kenyamanan dan suasana yang menyenangkan menjadi daya tarik bagi masyarakat perkotaan, meskipun bersifat konsumtif. Strategi diskon dan penawaran menarik mulai diterapkan oleh pemilik toko di mal untuk memikat para pengunjung yang awalnya hanya datang untuk “cuci mata” agar akhirnya tertarik untuk berbelanja.

Fenomena “cuci mata” ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga ditemukan di kota-kota lain seperti Medan. Para pemilik mal terus berupaya menarik perhatian pengunjung agar akhirnya tertarik untuk membeli barang. Meskipun awalnya hanya datang untuk jalan-jalan, banyak pengunjung yang akhirnya tertarik untuk membuat pembelian setelah terdorong oleh minat mereka. Fenomena ini memberikan tantangan bagi pelaku usaha, namun dengan strategi yang tepat, malah bisa menjadi peluang untuk meningkatkan penjualan.

Source link