Setiap 17 Agustus, Indonesia memperingati hari kemerdekaan untuk menghormati perjuangan panjang rakyat dalam membebaskan diri dari cengkeraman penjajah Belanda. Namun, selain perang fisik dan diplomasi, ada pembahasan menarik mengenai dukun santet di Indonesia. Beberapa orang percaya bahwa dukun dapat mengirim penyakit atau musibah dari jarak jauh.
Namun, mengapa para dukun tidak menggunakan santet untuk melawan penjajah Belanda agar kemerdekaan datang lebih cepat? Claude Levi-Strauss, seorang antropolog Prancis, menawarkan jawaban terkait ini. Menurutnya, efektivitas santet dan ritual dukun bergantung pada tiga unsur yang saling terkait.
Pertama, dukun harus percaya pada teknik yang digunakan, lalu korban sihir juga harus percaya pada kemampuan dukun, dan dukung dari pihak ketiga juga diperlukan. Jika salah satu dari ketiga unsur ini tidak terpenuhi, sihir tidak akan berhasil. Oleh karena itu, kepercayaan menjadi faktor kunci dalam efektivitas sihir.
Levi-Strauss mengaitkan hal ini dengan kompleks Syamanistik, yang tidak bisa dipisahkan. Jadi, ketidakpercayaan penjajah Belanda terhadap dukun dan sihir Indonesia menjadi alasan mengapa santet tidak bisa digunakan untuk mempercepat kemerdekaan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya saling terikatnya ketiga unsur dalam praktik sihir.





