Pada Sabtu, 22 Januari 1780, kehidupan masyarakat Jakarta seperti biasa hingga terjadi suara gemuruh yang mengejutkan pada pukul 14.39. Suara tersebut disertai getaran tanah yang hebat dan merubah kesibukan warga. Bangunan bergoyang dan berhamburan mencari perlindungan saat guncangan mereda pada pukul 14.42. Namun, bencana tidak berhenti di situ, dengan Gunung Salak dan Gunung Gede di Bogor ikut menyebabkan kerusakan.
Gempa dahsyat tersebut dirasakan tidak hanya di Jakarta tetapi hampir di seluruh Jawa. Bahkan kapal dagang Belanda di Selat Sunda turut merasakan dampak dari gempa tersebut. Kerusakan akibat gempa terjadi, dengan banyak rumah rata dengan tanah di luar kota dan bangunan di Jakarta juga rusak.
Penelitian ratusan tahun kemudian menemukan bahwa gempa pada tahun 1780 berkaitan erat dengan Sesar Baribis. Penelitian lain juga memperkirakan intensitas dan kerusakan yang diakibatkan oleh gempa tersebut. Meskipun data terbatas, diperkirakan sekitar 34 ribu orang tewas akibat gempa tersebut.
Setelah kejadian itu, gempa-gempa masih terjadi di Jakarta dan sekitarnya, termasuk gempa paling dahsyat pada tahun 1834. Bahkan baru-baru ini, pada Rabu (20/8/2025), gempa M4,9 terjadi di Bekasi dan terasa hingga Jakarta. Melalui latar belakang sejarah seperti ini, diharapkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi bencana semakin meningkat.





