Gaji yang besar yang diterima oleh para pejabat dan petinggi negara seharusnya sebanding dengan kontribusi yang mereka berikan kepada masyarakat. Bayaran yang tinggi seharusnya diiringi dengan kinerja yang maksimal. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak pejabat yang mengecewakan masyarakat, entah karena terlibat korupsi atau ucapannya yang menyakitkan hati. Evaluasi terhadap mereka seringkali sulit dilakukan.
Para pejabat di Indonesia yang berperilaku demikian masih dianggap beruntung jika dibandingkan dengan J.P.F. Filz, seorang pejabat pada masa Hindia Belanda yang dihukum mati karena kelalaiannya yang merugikan negara walaupun sudah menerima gaji besar. Saat Daendels menaikkan gaji pejabat dan birokrat saat memimpin Hindia Belanda, harapannya adalah agar tindakan korupsi bisa ditekan dan kinerja aparat ditingkatkan. Namun, kebijakan tersebut tidak selalu berhasil mengubah perilaku pejabat, seperti dalam kasus Filz.
Filz, seorang kolonel militer di Ambon pada masanya, gagal menjalankan tugasnya untuk menjaga Ambon dari serangan musuh. Padahal, dia memiliki ribuan pasukan siap tempur dan menerima gaji yang tinggi. Akibat kegagalannya, Daendels sangat marah dan langsung memerintahkan penangkapannya. Setelah melalui proses pengadilan yang berlarut-larut, Filz akhirnya divonis hukuman mati karena dinilai telah merugikan negara dan tidak bisa bekerja dengan baik.
Kisah ini menjadi bagian dari sejarah yang disajikan dalam rubrik CNBC Insight, yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kondisi masa kini melalui kisah masa lalu. Melalui cerita seperti ini, CNBC Insight juga ingin menghadirkan nilai-nilai kehidupan dari masa lampau yang masih relevan dan bermanfaat hingga saat ini. Semoga dari kisah ini, bisa diambil hikmah dan pelajaran berharga bagi kita semua.





