Reshuffle Kabinet RI: Presiden Lantik Menteri Berlatar Preman

by -385 Views

Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle personel Kabinet Merah Putih pada Senin (8/9/2025). Lima menteri diganti, termasuk Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Menteri Keuangan, Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Menteri Koperasi, serta Menteri Pemuda dan Olahraga. Pergantian menteri adalah hal yang biasa dalam ekskuetif dan merupakan hak prerogatif presiden. Sejarah mencatat bahwa reshuffle kabinet telah ada sejak awal kemerdekaan Indonesia dan menjadi bagian dari dinamika politik nasional.

Reshuffle kabinet pertama kali dilakukan oleh Presiden Soekarno saat Indonesia memasuki era Demokrasi Terpimpin (1959-1965). Ini terjadi pada Februari 1966, di tengah demonstrasi besar-besaran mahasiswa di Jakarta yang menuntut perubahan menyeluruh karena kondisi negara yang memprihatinkan. Hal ini dipicu oleh lonjakan harga bahan pangan yang tak terkontrol dan situasi politik yang tidak stabil pasca Gerakan 30 September 1965.

Akhirnya, ribuan mahasiswa turun ke jalan dengan tiga tuntutan utama, termasuk pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), perombakan Kabinet Dwikora, dan penurunan harga. Tuntutan ini dianggap Tritura atau Tri Tuntutan Rakyat. Hal tersebut memaksa Soekarno untuk melakukan reshuffle kabinet pertama kali dalam sejarah Indonesia pada 12 Februari 1966.

Sejarawan juga menganalisis bahwa langkah tersebut dilakukan oleh Soekarno untuk mempertahankan Demokrasi Terpimpin dan kekuasaannya. Meskipun tidak dilakukan atas tekanan demonstrasi, reshuffle kabinet akhirnya terjadi. Salah satu nama yang mencuat adalah Imam Syafiie, yang diangkat sebagai Menteri Urusan Keamanan Jakarta. Imam ini dulunya adalah preman Pasar Senen dan pemimpin organisasi preman bernama Cobra.

Protes terus berlanjut dan akhirnya Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) yang memberi mandat kepada Jenderal Soeharto untuk mengendalikan keamanan negara. Hal ini menjadi titik balik dalam sejarah politik Indonesia, di mana kekuasaan Soekarno meredup dan posisi Soeharto semakin menguat, hingga ia menjadi Presiden kedua RI pada 1968. Melalui kisah ini, dapat dipelajari nilai-nilai sejarah yang relevan hingga saat ini dan menjadi pelajaran berharga dari masa lampau.

Source link