Petir merupakan ancaman alam yang harus diwaspadai setiap kali hujan turun, karena sambaran listrik yang menyambar tanah bisa sangat mematikan bagi manusia. Di Depok, fenomena ini sudah menjadi cerita berulang sejak masa kolonial, karena warganya sering kali tewas akibat petir. Beberapa insiden tragis tercatat dalam sumber-sumber surat kabar Belanda, seperti kejadian pada Agustus 1933 ketika seorang warga bernama Felix Leander tewas tersambar petir. Berita kematian Felix langsung menggemparkan banyak orang karena usianya yang masih muda dan meninggalkan empat anak kecil.
Pada tahun 1935, tragedi lain terjadi di Depok, di mana seorang ayah bersama dua anaknya dan dua keponakan tewas saat sambaran petir besar menghantam mereka. Kejadian ini menyisakan pemandangan yang mengerikan, dengan dua anak kecil yang tewas seketika dan anggota rombongan lain yang mengalami syok berat. Musibah petir di Depok terus berulang, dengan kejadian besar pada tahun 1940 saat badai petir melanda kawasan tersebut selama satu jam penuh, menyebabkan banyak kerusakan dan hewan ternak tewas terkena aliran listrik.
Upaya pemerintah untuk mengantisipasi serangan petir dengan memasang alat penangkal petir ternyata tidak cukup efektif, karena Depok tetap menjadi daerah dengan tingkat sambaran petir tinggi. Bahkan, wilayah-wilayah di Depok mulai mendapat julukan seperti Pondok Petir dan Kampung Petir akibat fenomena petir yang kerap terjadi. Penelitian terkini juga memperkuat reputasi Depok sebagai kota dengan petir terganas, dengan Guinness Book of World Records memperhitungkan faktor topografi Depok yang membuat pembentukan petir lebih intens dan sering terjadi.





