Batik Jawa Europe Laris di Afrika: Fenomena Menarik

by -99 Views

Pada suatu waktu, Indonesia menjadi target pasar utama bagi sebuah produk tekstil dari Eropa. Namun, produk tersebut tidak berhasil diterima di pasar Indonesia. Namun, nasib berbeda menanti produk tersebut di Afrika Barat, jauh dari Indonesia. Produk tersebut dikenal dengan Dutch Wax Print atau Ankara Prints, Kente, dan Kitenge, yang kemudian menjadi populer di seluruh Afrika.

Dutch wax print kini digunakan sebagai simbol identitas, solidaritas sosial, bahkan pakaian wajib dalam berbagai peristiwa penting seperti pernikahan, pemakaman, dan upacara adat. Awal mula kain ini beredar di Afrika dimulai pada 1850 ketika para pengusaha Belanda mulai tertarik pada batik Indonesia. Para pelaku industri tekstil Belanda tidak ingin meniru proses batik tradisional yang rumit dan membutuhkan waktu, sehingga mereka mencoba meniru motif batik dengan mesin untuk produksi massal, lebih cepat, dan lebih murah. Namun, ketika kain produksi mesin tersebut dikirim ke Indonesia, pasar lokal menolaknya karena kualitasnya dianggap rendah dibandingkan dengan batik tradisional Indonesia.

Akibatnya, pemasaran kain ini dialihkan ke Afrika Barat, yang ternyata menerima kain tersebut dengan baik. Pasar di Afrika Barat sangat menerima Dutch wax print ini karena banyak eks-tentara Afrika yang pernah bertugas di Indonesia dan menjadi agen promosi kain tersebut, membawa pengaruh budaya dari Nusantara. Seiring berjalannya waktu, Dutch wax print menjadi populer di Afrika Barat dan menyebar ke wilayah lain di Afrika dengan berbagai nama lokal seperti Kente di Ghana dan Kitenge di negara-negara Afrika Tengah.

Fungsinya berkembang dari busana sehari-hari menjadi penanda identitas kelompok, pakaian resmi, dan busana adat. Hingga saat ini, Dutch wax print tetap relevan dalam budaya berpakaian di Afrika.

Source link