Serangan AS: Kapal Selam ‘Rusia’ Siap Luncurkan Rudal Nuklir

by -99 Views

Sejak Kamis, 5 Februari 2026, keputusan Amerika Serikat (AS) dan Rusia untuk tidak memiliki perjanjian pengendalian senjata nuklir telah menimbulkan potensi eskalasi konflik nuklir yang membahayakan. Sejarah telah membuktikan bahwa ketiadaan perjanjian semacam itu dapat mengarah pada kehancuran dunia, seperti yang terjadi pada tahun 1962. Saat itu, kapal selam nuklir Uni Soviet hampir mengirimkan serangan balasan setelah diserang oleh Angkatan Laut AS di perairan Kuba, mengancam kehidupan manusia.

Pada tahun 1962, AS dan Uni Soviet – dua negara dengan persenjataan nuklir terbesar – terlibat dalam ketegangan hebat ketika rudal nuklir ditempatkan di Kuba oleh Uni Soviet, sehingga AS berada dalam jangkauan serangan nuklir dalam hitungan menit. Ketegangan semakin meningkat ketika AS menempatkan senjata nuklir di Turki sebagai respons, yang dianggap mengancam keamanan Soviet. Pada malam 27 Oktober 1962, krisis mencapai puncaknya ketika kapal selam B-59 milik Uni Soviet terdeteksi oleh Angkatan Laut AS di perairan sekitar Kuba. Pasukan AS berusaha memaksa kapal selam tersebut naik ke permukaan, tanpa mengetahui bahwa kapal tersebut membawa rudal nuklir.

Beruntung, keputusan untuk meluncurkan serangan nuklir tidak terjadi karena perwira tinggi, Vasily Arkhipov, menolak memberikan persetujuan. Hal ini mencegah terjadinya perang nuklir yang berpotensi mengancam keberlangsungan hidup di muka bumi. Setelah negosiasi intens, krisis akhirnya mereda, dan kedua negara sepakat untuk membangun jalur komunikasi khusus serta mengadakan perjanjian pengendalian senjata nuklir. Namun, saat ini, keputusan AS dan Rusia untuk tidak terikat dalam perjanjian serupa kembali meningkatkan ketegangan global terkait senjata nuklir.

Source link