Kecelakaan Tragis: 24 Orang Tewas Dalam Tabrakan Kereta dengan Kerbau di Jakarta

by -114 Views

Kecelakaan Kereta Tertua di Indonesia: Saat Seekor Kerbau Jadi Penyebab Utama

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia – Kecelakaan antara KRL dengan KA Argo Bromo di Bekasi Timur pada Senin (27/7/2026) kembali mengingatkan publik pada panjangnya sejarah insiden perkeretaapian di Indonesia. Namun, tak banyak yang tahu kecelakaan kereta pertama di Indonesia ternyata sudah terjadi lebih dari seabad lalu, tepatnya pada 1914. Menariknya, penyebab kecelakaan tersebut bukan karena tabrakan antarkereta atau kerusakan teknis, melainkan gara-gara seekor kerbau yang tiba-tiba melintas di rel.

Kisah Kecelakaan Kereta Pertama di Indonesia Tahun 1914

Pada 2 April 1914, warga Batavia (kini Jakarta) dihebohkan oleh kecelakaan kereta api pengangkut pekerja pribumi di kawasan Kali Mati, Jakarta Utara. Berdasarkan pemberitaan De Express (7 April 1914), kereta berangkat dari Meester Cornelis (kini Jatinegara) menuju Tanjung Priok pukul 06.12 pagi. Kereta tersebut membawa para pekerja pribumi yang hendak bekerja di kawasan pelabuhan. Namun, di tengah perjalanan, tepatnya saat melintas di Kali Mati, kecelakaan besar terjadi. Penyebabnya sangat tak terduga, yakni seekor kerbau mendadak menyeberangi rel.

“Sekitar 20 meter sebelum jembatan, terdapat seekor kerbau yang sedang makan rumput tiba-tiba menyeberang rel kereta. Masinis tidak sempat berhenti. Meskipun dia mengerem sekuat tenaga, tanpa hasil, tabrakan tak dapat dihindari,” ungkap Bataviaasch nieuwsblad (2 April 1914).

Mengerikan, 24 Orang Tewas dalam Kecelakaan

Kereta yang melaju sekitar 30 kilometer per jam itu langsung menghantam kerbau hingga anjlok dan menabrak jembatan. Dampaknya sangat parah. Gerbong pertama hancur lalu terjun ke sungai bersama reruntuhan jembatan. Gerbong kedua menggantung di tepi jembatan, sementara gerbong-gerbong lain keluar dari rel.

Menurut Bataviaasch nieuwsblad (2 April 1914), suasana di lokasi kecelakaan sangat mengerikan. Gerbong-gerbong saling bertumpukan dan ringsek. Sebagian korban bahkan terjebak di gerbong yang tenggelam ke sungai.

“Ketika tiba di lokasi sekitar pukul 8 pagi, kami benar-benar tidak tahu apa yang kami lihat. Sangat mengerikan,” ungkap reporter koran Belanda tersebut.

Jeritan korban terdengar bersahut-sahutan di lokasi kejadian. Tangis keluarga dan warga ikut memenuhi area kecelakaan. Warga yang datang berkerumun segera memanggil bantuan. Tak lama kemudian, dokter dan tenaga medis berdatangan untuk melakukan penyelamatan. Namun, keterbatasan alat membuat proses evakuasi berlangsung lama.

Kondisi korban saat ditemukan disebut sangat mengenaskan. Banyak yang mengalami luka berat di kepala dan patah tulang. Sejumlah korban ditemukan sudah meninggal dunia. Masuk pun tak lama kemudian, dokter dan tenaga medis diselidik; pasca kejadian, perusahaan kereta api disebut mulai mempertimbangkan pemasangan; kecelakaan memang terulang untuk mencegah. รง;

Source link

Source link