Menteri RI Diculik oleh Kelompok Bersenjata: Diduga Campur Tangan Intel Asing

by -140 Views

Otista: Tragedi Menteri RI yang Misterius

Jakarta, CNBC Indonesia – Nama Otto Iskandar Dinata mungkin lebih dikenal sebagai Otista, pahlawan nasional yang namanya diabadikan dalam berbagai jalan utama di Indonesia. Namun, sedikit yang mengetahui akhir tragis yang menimpa salah satu tokoh era kemerdekaan Indonesia ini.

Perjalanan Hidup Otto Iskandar Dinata

Otista merupakan figur penting dalam gerakan nasional Indonesia. Pada era 1920-an, dia aktif dalam Boedi Oetomo. Ketika Indonesia meraih kemerdekaan, Otista terlibat dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Otto ditunjuk sebagai Menteri Negara oleh Presiden Soekarno. Tantangan besar dihadapi Otto karena kondisi keamanan Indonesia masih panas dan angkatan bersenjata belum terorganisir baik.

Tragedi yang Menimpa Otto Iskandar Dinata

Pada 19 Desember 1945, Otto Iskandar Dinata diculik oleh kelompok bersenjata yang dikenal sebagai Laskar Hitam di Tangerang. Dari sana, Otista menghilang tanpa jejak dan sejak itu tak pernah ditemukan lagi.

Berdasarkan buku oleh Iip D. Yahya, dicurigai bahwa penculikan Otto dipicu desas-desus yang disebarkan oleh agen Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Otto dituduh sebagai mata-mata Belanda, yang membuatnya jadi target kelompok bersenjata.

Beberapa spekulasi menyebutkan bahwa Otto dianggap memiliki harta sejumlah satu juta gulden Belanda, yang digunakan untuk menciptakan narasi Otto berpihak pada Belanda. Namun, uang tersebut sebenarnya adalah rampasan perang Jepang dalam bentuk gulden Belanda.

Karena nasib Otto yang tak pernah diketahui secara pasti, pemerintah menetapkan 20 Desember 1945 sebagai tanggal wafat Otto Iskandar Dinata. Pemakaman simbolis dilangsungkan tujuh tahun kemudian di Bandung dengan peti yang berisi pasir dan air laut, sebagai simbol dari ketidakpastian atas keberadaan Otista.

Source link