Mantan Menteri Keuangan RI Terharu dalam Aksi Relawan NTT

by -60 Views

Frans Seda Tangis Melihat Penderitaan Korban Gempa Flores 1992

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia – Frans Seda, mantan Menteri Keuangan RI, terisak saat melihat langsung penderitaan korban gempa dan tsunami di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 1992. Sebagai Ketua Panitia Nasional Bencana Gempa Flores, dia berjuang sebagai relawan untuk membantu masyarakat terdampak bencana tersebut.

Kondisi Mengenaskan Pasca Gempa dan Tsunami 1992

Pada 12 Desember 1992, gempa berkekuatan M7,8 mengguncang Flores dan menyebabkan tsunami setinggi 25 meter yang menghantam pesisir utara pulau tersebut. Pusat gempa terletak di lepas pantai Flores, sekitar 35 kilometer dari Maumere. Guncangan hebat ini meruntuhkan ratusan bangunan di Maumere dan sejumlah kampung di pesisir ikut tenggelam setelah daratan amblas.

Frans Seda, yang memiliki ikatan emosional dengan Flores, terpanggil untuk turun tangan membantu penanganan bencana tersebut. Meskipun ia lahir di Maumere, Frans Seda tumbuh di NTT dan memiliki kedekatan khusus dengan daerah tersebut. Sebagai Menteri Keuangan ke-14 Indonesia pada 1966-1968, Frans Seda merupakan putra NTT pertama yang menjabat sebagai menteri pada masa pemerintahan Soeharto.

Perjuangan Frans Seda dan Respons Pemerintah

Setelah bencana, Frans Seda turut serta dalam upaya penanganan korban dan rekonstruksi daerah terdampak. Berada di tengah-tengah kondisi sulit masyarakat, dia tersentuh dan tidak mampu menahan air mata. Melihat warga yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa, hidup dalam kondisi cuaca buruk, dan kekurangan makanan, Frans Seda bergerak untuk meminta bantuan bagi korban gempa Flores.

Pemerintah Soeharto juga memberikan respons cepat terhadap tragedi ini. Empat hari setelah bencana, Soeharto mengirim bantuan besar ke NTT dan menetapkan gempa dan tsunami Flores sebagai bencana nasional. Beberapa menteri kabinet diinstruksikan untuk mengecek langsung kondisi lapangan, dan Soeharto sendiri terbang ke NTT untuk melihat situasi para korban.

Di lokasi bencana, Soeharto mendorong percepatan rekonstruksi dan penanganan terhadap wilayah yang terkena dampak. Lebih dari 2.500 orang tewas dalam bencana tersebut, 500 orang hilang, dan 447 lainnya luka-luka. Sekitar 5.000 orang terpaksa mengungsi akibat gempa dan tsunami yang menguncang Flores pada tahun 1992.

Source link