Holding Ultra Mikro Antar Mur Dwi Astuti Sukses Bertani di Merauke

by -89 Views

Mur Dwi Astuti memperluas lahan sawahnya di Merauke, Papua, dari satu hektare menjadi tiga hektare setelah memperoleh akses pembiayaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan usaha. Namun, ekspansi tersebut berlangsung di tengah tantangan pertanian yang masih bergantung pada musim, ketersediaan air, dan kondisi hama.

Perempuan asal Merauke itu sebelumnya lebih dulu memanfaatkan layanan gadai emas di Pegadaian untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari prosesnya dalam mengelola keuangan sekaligus mempertahankan keberlangsungan usaha tani padi yang dijalankan.

Dari gadai emas ke KUR Mikro

Setelah menjalankan usaha selama lebih dari satu tahun, kebutuhan modal Mur meningkat. Ia kemudian menggunakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro BRI untuk membiayai operasional pertanian, termasuk proses budidaya, pembayaran tenaga kerja, dan penggunaan alat pertanian.

Mur memilih fasilitas tersebut, antara lain, karena pengajuannya tidak mengharuskan penyediaan jaminan lain. Dalam prosesnya, ia juga mendapat pendampingan dari petugas BRI. Menurut Mur, komunikasi dengan petugas berlangsung secara langsung dan respons yang diterimanya cukup cepat.

“Kita langsung menghubungi petugasnya, langsung ditanya-tanya, dilayanin,” ujarnya, dikutip Selasa (15/9/2026).

Akses modal itu membantu Mur meningkatkan skala lahan yang dikelola. Meski demikian, bertambahnya luas garapan tidak menghilangkan risiko usaha. Cuaca yang berubah-ubah, serangan hama, serta keterbatasan air ketika musim kemarau masih menjadi persoalan yang dapat memengaruhi hasil panen.

“Kita ini tergantung musim, biasanya ya padi kalau bagus ya kita dapat hasil bagus, kalau jelek ya jelek,” kata Mur.

Belajar menyisihkan modal untuk musim tanam berikutnya

Selain menambah kapasitas usaha, pembiayaan tersebut mendorong Mur memperbaiki cara mengelola keuangan. Ia mengakui sebelumnya masih kesulitan memisahkan dan mengatur uang usaha. Melalui pendampingan BRI, Mur mulai menyisihkan sebagian dana untuk digunakan kembali sebagai modal pada siklus tanam berikutnya.

“Soalnya kan kita ini belum bisa mengelola keuangannya. Nah, terus kita dibantu oleh BRI, jadi kita bisa simpan-simpan uangnya lebih mudah,” tuturnya.

Bagi Mur, pengelolaan keuangan menjadi bagian penting karena usaha pertanian tidak selalu menghasilkan pendapatan yang sama pada setiap musim. Modal tambahan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan operasional, tetapi juga membuka peluang baginya untuk memperluas lahan secara bertahap.

Pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan kemandirian ekonominya sebagai perempuan yang bekerja di sektor pertanian. “Ya, yang penting kita tuh mau berusaha, pasti perempuan juga bisa,” ujarnya.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengatakan perjalanan Mur mencerminkan peran ekosistem Holding Ultra Mikro (UMi) yang terdiri atas BRI, Pegadaian, dan PNM. Menurut dia, akses pembiayaan dapat dimanfaatkan secara bertahap sesuai perkembangan kebutuhan pelaku usaha.

“Pengalaman Mur yang terlebih dahulu memanfaatkan gadai emas di Pegadaian, kemudian beralih memanfaatkan KUR Mikro BRI, menunjukkan adanya ruang bagi pelaku usaha untuk tumbuh dan naik kelas seiring meningkatnya kebutuhan modal,” ungkapnya.

Mur kini tetap menghadapi perubahan musim dan keterbatasan air di lahan garapannya. Ia mengajak petani serta pelaku usaha kecil lain untuk berani mengambil peluang pembiayaan selama mampu memenuhi kewajibannya.

Source link