Bernyali Besar, Diplomat RI Sentil Pangeran Inggris di Publik

by -98 Views

Di tengah jamuan penobatan Ratu Elizabeth II di London, 3 Juni 1953, Haji Agus Salim menggunakan sebatang rokok kretek untuk menyampaikan sindiran sejarah kepada Pangeran Philip, suami sang ratu. Diplomat Indonesia itu mengingatkan bahwa aroma cengkeh yang dianggap asing bagi bangsawan Inggris pernah menjadi salah satu alasan pelaut Eropa datang ke Nusantara.

Rokok kretek yang menarik perhatian

Agus Salim hadir di Inggris atas penugasan Presiden Soekarno untuk mewakili Indonesia dalam acara penobatan Ratu Elizabeth II. Ia datang bersama Sri Paku Alam dan Duta Besar RI untuk Inggris. Kehadiran delegasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan seremoni kerajaan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk membangun hubungan dengan Inggris dan para utusan negara lain.

Dalam salah satu sesi acara, para tamu dipersilakan berbincang secara santai. Mereka juga diperbolehkan merokok sehingga ruangan dipenuhi asap dari berbagai jenis rokok. Ketika Agus Salim menyalakan rokok kretek, aroma cengkeh yang khas segera membedakannya dari rokok tembakau biasa.

Bau tersebut menarik perhatian Pangeran Philip, Duke of Edinburgh. Ia kemudian menghampiri Agus Salim dan bertanya secara spontan, “What is that, what is that?”

Kisah percakapan itu dituturkan kembali oleh Soekarno dalam pidatonya yang berjudul “Berikan Jiwa Ragamu Sepenuh-penuhnya” pada 12 September 1963. Berdasarkan penuturan tersebut, Agus Salim menjelaskan bahwa rokok yang dihisapnya merupakan rokok cengkeh, jenis rokok yang berbeda dari yang lazim ditemukan di Inggris.

Sindiran tentang sejarah rempah Nusantara

Pangeran Philip kemudian menyampaikan bahwa aroma rokok itu terasa berbeda dan cenderung aneh. Agus Salim tidak membalasnya dengan kemarahan. Ia justru menjawab dengan tenang, tetapi menyelipkan pesan tentang sejarah hubungan Inggris dan Eropa dengan kepulauan Indonesia.

“Yang Mulia, bau yang tidak sedap itu berasal dari rokok kretek saya, yang terbuat dari tembakau dan cengkeh. Boleh saja Yang Mulia tidak menyukainya, namun bau inilah yang menarik minat pelaut-pelaut Eropa datang ke negeri kami tiga abad yang lalu,” ujar Agus Salim, seperti dikutip dalam buku Haji Agus Salim (1884-1954): tentang perang, jihad, dan pluralisme (2004).

Jawaban tersebut membuat suasana di sekitar mereka hening. Para hadirin dikisahkan terdiam, sedangkan Pangeran Philip tidak melanjutkan komentarnya. Ia kemudian meminta para tamu kembali berbaur dan melanjutkan percakapan santai.

Dalam kisah itu, Agus Salim tidak sekadar membela rokok yang diisapnya. Ia mengaitkan aroma cengkeh dengan sejarah rempah Nusantara yang pernah menarik kedatangan pelaut-pelaut Eropa ke wilayah Indonesia berabad-abad sebelumnya. Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan keberaniannya menyampaikan pengingat sejarah di hadapan keluarga kerajaan Inggris.

Source link