Tradisi Sulam Kasab Aceh Bersama Holding Ultra Mikro BRI

by -80 Views

Selama lebih dari tiga dekade, Asra mempertahankan sulam manik-manik kasab sebagai kerajinan khas Kuala Baru, Aceh. Perempuan berusia 63 tahun itu tidak hanya menjadikan keterampilan menyulam sebagai sumber penghasilan, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar sekaligus menjaga tradisi lokal agar tetap dikenal.

Asra mulai menekuni usaha tersebut sejak 1990. Pada awalnya, sulam benang kasab merupakan bagian dari tradisi masyarakat di daerahnya. Namun, proses pembuatan yang panjang dan membutuhkan ketelitian membuat semakin banyak warga memilih membeli sulam manik-manik kasab daripada mengerjakannya sendiri.

Melihat kebutuhan itu, Asra menawarkan jasanya dengan menerima pesanan dari rumah ke rumah. Kegiatan yang semula dilakukan di sela perannya sebagai ibu rumah tangga kemudian berkembang menjadi usaha yang membantu menopang perekonomian keluarga. Pesanan yang awalnya datang dari masyarakat sekitar kini menjangkau berbagai daerah di Aceh.

Kerajinan yang menuntut ketelitian

Sulam manik-manik kasab dibuat sepenuhnya dengan tangan. Setiap tarikan benang harus dilakukan secara hati-hati agar pola terlihat rapi. Pengerjaannya pun tidak dapat dipercepat karena kesalahan pada satu bagian berpotensi memengaruhi hasil keseluruhan.

“Keunikan usaha ini ada pada proses pembuatannya yang cukup rumit. Setiap tarikan benang membutuhkan ketelitian dan kesabaran ekstra. Tidak bisa dikerjakan terburu-buru karena setiap bagian harus dibuat dengan hati-hati supaya hasilnya rapi dan bagus,” kata Asra dalam keterangan tertulis, Minggu (20/9/2026).

Perjalanan usaha itu tidak selalu berjalan mudah. Pada 2020, Asra bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar untuk memperoleh tambahan modal. Dana tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi, termasuk membeli bahan dalam jumlah lebih banyak. Dengan dukungan itu, kapasitas produksinya meningkat dan ia dapat menerima lebih banyak pesanan.

“Alhamdulillah, tambahan modal tersebut membantu saya untuk tetap menjalankan usaha dan memenuhi kebutuhan produksi,” ujarnya.

Selain pembiayaan, Asra mengikuti pelatihan mengenai benang kasab yang diselenggarakan di Kuala Baru. Pendampingan tersebut menambah pengetahuan dan keterampilannya dalam mengelola usaha kerajinan.

Dampak bagi masyarakat dan pelestarian tradisi

Meningkatnya kapasitas produksi membuat manfaat usaha Asra meluas. Ia dapat memberikan kesempatan kerja kepada warga lain, sehingga masyarakat sekitar memperoleh tambahan penghasilan dari kegiatan pembuatan sulam manik-manik kasab.

Upaya itu menjadi bagian dari semangat Holding Ultra Mikro (UMi), yang mengintegrasikan BRI sebagai induk holding bersama Pegadaian dan PNM. Sejak dibentuk pada 2021, Holding UMi dirancang untuk memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat segmen ultra mikro melalui pembiayaan, simpanan, transaksi, pemberdayaan, dan pendampingan usaha.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan pemberdayaan merupakan unsur penting dalam membangun ekosistem ultra mikro yang berkelanjutan.

“Melalui Holding Ultra Mikro, kami ingin memastikan bahwa akses keuangan menjadi pintu masuk menuju pemberdayaan yang lebih luas. Pelaku usaha seperti Ibu Asra menunjukkan bahwa ketika akses pembiayaan dipadukan dengan pendampingan dan semangat untuk terus berkembang, usaha ultra mikro dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui pemilik usahanya sendiri,” ujar Dhanny.

Bagi Asra, dukungan tersebut membantu menjaga keberlangsungan usaha yang telah dirintis sejak tiga dekade lalu. Setiap sulam kasab yang dihasilkan kini berperan ganda: menjadi sumber penghidupan bagi keluarga dan warga sekitar, sekaligus mempertahankan keterampilan tradisional Aceh di tengah perubahan zaman.

Source link