Kisah Vio Menyeberangi Lautan demi Nasabah Ultra Mikro

by -92 Views

Di Banda Neira, Maluku Tengah, akses layanan keuangan tidak selalu ditempuh melalui jalan darat. Violend Trintje Ory, 23 tahun, harus menyeberangi laut dan berjalan kaki untuk menjangkau kelompok nasabah yang didampinginya sebagai Account Officer (AO) PNM Mekaar.

Vio ditugaskan dari Ambon untuk membuka Unit Banda, unit baru sekaligus unit pertama PNM di Banda Neira. Dari mes tempat tinggalnya, ia membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mendatangi rumah-rumah warga. Tugas tersebut tidak berhenti pada penyaluran pembiayaan, tetapi juga memperkenalkan PNM Mekaar kepada masyarakat yang sebagian belum mengenal layanan itu.

Membangun kepercayaan dari rumah ke rumah

Pada masa awal operasional, Vio menghadapi keraguan dari calon nasabah. Ia memilih pendekatan langsung dengan mengunjungi warga dan menjelaskan program yang ditawarkan. Menurut dia, masyarakat tidak bisa dipaksa untuk segera bergabung. Kepercayaan perlu dibangun secara bertahap melalui komunikasi dan pemahaman terhadap kondisi keluarga calon nasabah.

“Awal kami masuk, mereka ragu. Kami tidak memaksakannya bagi mereka yang terasa ragu. Tapi kami rangkul yang percaya sama kami untuk prosesnya ke depan,” ujarnya, dikutip Sabtu (19/9/2026).

Pendekatan itu juga membuat Vio tidak hanya berbicara dengan calon nasabah. Ia berusaha memahami sudut pandang keluarga dan kondisi warga sebelum mendampingi mereka. Informasi mengenai PNM kemudian menyebar secara perlahan melalui masyarakat yang telah bergabung sebagai nasabah.

Medan geografis menjadi tantangan lain dalam pekerjaan tersebut. Untuk mencapai wilayah tertentu, Vio bersama rekan-rekannya harus menyeberangi laut. Setelah tiba di wilayah seberang, mereka masih harus berjalan kaki karena sepeda motor belum dapat digunakan untuk menjangkau kawasan tersebut. Keterbatasan transportasi itu tidak menghentikan aktivitas sosialisasi dan pendampingan.

Melihat perubahan dari usaha nasabah

Bagi Vio, pekerjaannya bukan semata-mata menemukan calon nasabah atau menyalurkan pembiayaan. Ia juga menyaksikan perubahan yang terjadi dalam kehidupan para ibu setelah memperoleh dukungan modal usaha.

Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah kisah seorang nasabah yang sebelumnya bekerja sebagai asisten rumah tangga. Pekerjaan itu membuatnya harus berada di luar rumah sejak pagi hingga sore, sehingga waktu bersama keluarga terbatas. Setelah memperoleh modal usaha, nasabah tersebut memutuskan berhenti bekerja dan mulai berjualan kebutuhan sehari-hari dari rumah.

“Saya merasa bersyukur, karena saya jadi penyalur berkat,” kata Vio. Ia mengaku bahagia melihat para ibu mulai memiliki usaha dan penghasilan yang dapat membantu keluarga.

Kehadiran Vio dan rekan-rekannya di Banda Neira menjadi bagian dari upaya memperluas layanan keuangan ke wilayah kepulauan. Langkah tersebut juga terkait dengan peran Holding Ultra Mikro (UMi), yang sejak dibentuk pada 2021 mengintegrasikan BRI sebagai induk holding bersama Pegadaian dan PNM.

Ekosistem itu mencakup akses pembiayaan, simpanan, transaksi, pemberdayaan, serta pendampingan usaha. Hingga akhir triwulan II 2026, Holding UMi melayani 33,8 juta debitur aktif dan mengelola lebih dari 166 juta rekening simpanan mikro. Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM juga telah mendorong sekitar 2,3 juta debitur naik kelas.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, kekuatan Holding UMi tidak hanya ditentukan oleh besarnya ekosistem, tetapi juga oleh kemampuan tenaga pemasar untuk hadir dekat dengan masyarakat.

“Di balik besarnya ekosistem Holding Ultra Mikro, terdapat 74 ribu tenaga pemasar yang setiap hari hadir dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka menjadi jembatan yang menghubungkan layanan keuangan dengan pelaku usaha hingga ke tingkat komunitas untuk membangun kepercayaan, mendampingi, dan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk tumbuh,” ujar Dhanny.

Source link