Cara Tetap Istirahat Meski Pekerjaan Menumpuk

by -66 Views

Jadwal kerja yang padat sering membuat waktu makan dan istirahat dianggap sebagai hal yang bisa ditunda. Ketika sebuah tugas terasa hampir selesai, banyak orang memilih terus bekerja karena khawatir berhenti sebentar justru membuat pekerjaan semakin tertinggal. Padahal, kebiasaan menunda jeda dapat membuat seseorang bekerja berjam-jam tanpa pemulihan yang memadai.

Temuan yang dibahas Albulescu et al. dalam studi tentang jeda kerja yang dipublikasikan di PLOS One pada 2022 menunjukkan, jeda singkat dapat membantu mengurangi kelelahan. Dampaknya terhadap performa kerja secara keseluruhan memang tidak terlalu besar, tetapi jeda tetap dapat menjadi bagian penting dalam menjaga ritme kerja agar lebih stabil.

Jeda bukan hadiah setelah semua tugas selesai

Pekerjaan tidak selalu dapat dituntaskan dalam satu blok waktu. Karena itu, istirahat sebaiknya tidak diposisikan sebagai hadiah yang baru boleh diambil setelah seluruh tugas selesai. Jeda perlu dimasukkan ke dalam jadwal kerja, sama seperti pekerjaan lain yang harus diselesaikan.

Waktu istirahat bisa diambil setelah satu pekerjaan selesai atau ketika beberapa tugas kecil telah dituntaskan sebelum beralih ke pekerjaan berikutnya. Cara ini membantu menciptakan batas yang lebih jelas antara satu aktivitas dan aktivitas lainnya, tanpa harus menunggu seluruh daftar pekerjaan kosong.

Untuk pekerjaan yang berlangsung panjang, micro-break dapat menjadi pilihan. Jeda ini tidak harus berlangsung lama. Berdiri, berjalan sebentar, minum, atau melakukan aktivitas yang tidak berkaitan dengan pekerjaan selama beberapa menit dapat memberi jarak dari tugas yang sedang dikerjakan. Studi yang dirujuk menyebutkan bahwa jeda singkat memiliki efek kecil tetapi signifikan dalam mengurangi kelelahan.

Sesuaikan bentuk istirahat dengan kebutuhan

Setiap kondisi kerja membutuhkan jenis jeda yang berbeda. Setelah terlalu lama menatap layar, menjauh sejenak dari perangkat dapat lebih sesuai daripada kembali membuka media sosial. Saat pikiran terasa penuh, berjalan atau duduk tanpa mengerjakan tugas apa pun bisa menjadi pilihan. Tubuh yang kaku dapat direspons dengan peregangan ringan.

Jeda juga dapat diambil sebelum berpindah ke tugas berikutnya, terutama ketika pekerjaan terdiri atas banyak tugas kecil. Jika konsentrasi mulai sulit dipertahankan, berhenti sejenak sebelum kembali bekerja dapat membantu memberikan ruang pemulihan. Dengan memilih aktivitas istirahat berdasarkan kondisi tubuh dan pikiran, waktu jeda tidak sekadar menjadi pergantian kegiatan, tetapi benar-benar memberi jarak dari pekerjaan.

Tetapkan batas, termasuk saat pekerjaan mendesak

Istirahat tidak akan banyak membantu jika tetap diisi dengan pekerjaan lain. Makan sambil memeriksa email atau kembali membuka laptop untuk mengecek satu hal membuat seseorang belum sepenuhnya lepas dari tuntutan pekerjaan.

Memang, tidak semua hari kerja memungkinkan pola jeda yang ideal. Tenggat waktu, rapat berturut-turut, atau situasi mendesak dapat membatasi pilihan. Namun, batas istirahat tetap dapat ditentukan dengan melihat ritme pekerjaan dan memilih titik jeda yang paling memungkinkan. Batas tersebut setidaknya perlu menjaga agar waktu makan dan kebutuhan dasar tidak terus dikorbankan.

Menunda seluruh jeda sampai pekerjaan selesai bukan selalu cara terbaik untuk mengelola hari kerja. Mengatur kapan harus berhenti sejenak dapat membantu mengurangi kelelahan dan menekan risiko burnout tanpa menghilangkan arah pekerjaan.

Source link