Kontroversi antara Asisten Pribadi Presiden RI dan Jenderal TNI Terkemuka

by -121 Views

Perseteruan Antara Ali Moertopo dan Jenderal Soemitro

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia – Perselisihan di lingkaran terdekat Presiden Indonesia pernah terjadi di masa Orde Baru. Konflik itu melibatkan Asisten Pribadi (Aspri) Presiden, Ali Moertopo, dengan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), Jenderal Soemitro.

Panglima dan Aspri: Perang Kekuasaan Di Balik Layar

Keduanya sama-sama memiliki pengaruh besar di sekitar Soeharto, tetapi berada di jalur kekuasaan yang berbeda. Ali Moertopo, sejak 1968 menjadi salah satu Aspri dengan keleluasaan mengelola berbagai operasi intelijen dan operasi khusus (Opsus). Meski hanya berpangkat Mayor Jenderal atau bintang dua, pengaruhnya sangat besar karena menjadi salah satu orang kepercayaan utama Soeharto. Sementara Soemitro menjabat sebagai Pangkopkamtib sejak 1971. Sebagai jenderal bintang empat, dia memegang kewenangan luas untuk menjaga keamanan dan ketertiban nasional, termasuk menghadapi ancaman subversi dan pemberontakan.

Antara 1971 hingga 1974, persaingan antara kedua tokoh ini semakin memanas. Masing-masing pihak diduga saling curiga bahwa lawannya memiliki ambisi politik lebih besar, bahkan berpotensi menjadi pesaing Soeharto. Kubu Ali menduga Soemitro ingin menyaingi posisi presiden, sementara Soemitro khawatir Ali berupaya merusak reputasinya.

Kerusuhan dan Akhir Perseteruan

Pada 15 Januari 1974, Kerusuhan Malari yang dipicu oleh demonstrasi mahasiswa menjadi titik balik bagi konflik ini. Soemitro dianggap bertanggung jawab atas kerusuhan tersebut dan memutuskan mundur dari jabatannya serta menolak menjadi Dubes AS. Setelah peristiwa Malari, Soeharto melakukan perombakan besar di lingkaran kekuasaannya. Tokoh-tokoh dekat Soemitro dipindahkan, sementara Ali Moertopo juga kehilangan sebagian pengaruhnya setelah struktur Aspri dibubarkan dan dirinya dipindahkan ke BAKIN.

Perseteruan antara Ali Moertopo dan Jenderal Soemitro menjadi cerminan dari dinamika kekuasaan di masa Orde Baru Indonesia. Dampak dari konflik keduanya terasa kuat dalam perjalanan politik negara pada era tersebut.

Source link